Mungkin sekitar 1 or 2 bulan lalu.
Dan semua ini membuat gue jadi tertegun untuk sebentar mereview, apa arti persahabatan buat gue.
I thought we were friend. Best friend malah. Tapi sejak nggak ada balasan akan sms dan telpon gue, masih layak nggak sih kata2 diatas.
I knew her since i was at the 2nd year in college. At that time, kami sama2 anak baru di kos2an deket kampus. Kampus gue dan dia bersebelahan. Bersama 2 anak baru laennya, kita ber4 cukup deket satu sama lain.
Time's fly....
Satu persatu meninggalkan kos2an. Lost contact each other, entah kenapa gue dan dia malah menjadi lebih deket dari kemaren2.
Hang out bareng, pergi ber4 bareng 2 orang temen cowok laen. Sometimes cuma duduk2 berdua di cafe untuk saling curhat2an.
Untungnya selera kita akan cowok sangat bertolak belakang. Jadi, nggak pernah rebutan cowok yang sama (haiyaaaahhhh, kalo sama pun, emang worth it geto, rebutan cowok? Hehehe…)
Banyak hal yang sudah gue lalui dengan dia. Dan pernah juga berpikir, mungkin dia salah satu best friend dalam hidup seorang Belle. Marahan, sering. Jutek2an, sering. Adu argument? Lebih sering lagi.
But, ada yang ga bener akhir2 ini.
Dia orangnya keras. Kalo kata buku personality sih orangnya koleris koleris (perhatikan kombinasi karakternya :p). Sementara gue adalah orang yang koleris sanguin (or sanguin koleris?). Banyak orang yang nanya kenapa kita cocok banget. Padahal sering berantem juga. But, I thought it was oke.
Until last month…
Apa sih artinya seorang sahabat? Apa bedanya sahabat dan temen? Kalo emang beda, mana yang lebih baik, punya temen yang banyak apa punya satu orang sahabat saja?
Beruntungnya gue, ada begitu banyak orang2 yang gue kategorikan sahabat dalam hidup. Sejak kecil, meski punya banyak temen, ada segelintir orang yang gue sebut sahabat. Dan seiring berlalunya waktu, sahabat2 terus bertambah, bukan tergantikan. Meski kehilangan kontak, atau lama nggak berhubungan dikarenakan jarak dan waktu, mereka tetap istimewa dihati. Karena gue tau, kalo gue menyediakan sedikit waktu menghubungi mereka, mereka akan tetap ada disitu, seperti gue yang selalu berusaha ada ketika mereka menghubungi gue.
Pandangan dan prinsip hidup kita berbeda. Gue besar dengan didikan kerja keras dari keluarga. Ntah karbitan apa nggak, ntah dipaksakan atau nggak, kemandirian adalah kata2 yang sering berlalu lalang di kepala gue. Pemalas? Aduhhh… itu gue banget. Tapi bokap nyokap adalah orang yang sama keras kepalanya dengan gue. Nggak pernah bosen jejalin gue dengan prinsip dan semangat hidup yang mereka miliki. Dan gue bener2 bersyukur akan itu. Kalo nggak diajarkan dengan cara seperti itu, mungkin gue cuma akan jadi anak manja yang berlindung dibalik ketiak orang tua, bergantung sepenuhnya kepada orang lain seumur hidup (dalam kasus ini dari orang tua ke suami; keuntungan hidup sebagai seorang wanita :p), dan akan selalu dan selalu menyalahkan orang lain akan hal2 yang salah dalam hidup gue.
Dia?Ga tau lah, yang bisa gue liat dengan jelas adalah terlalu cepat menyerah, nggak cukup fight, dan selalu berpikir bahwa dunia berputar mengelilingi dia.
Tapi apalah gue ini? Seorang sahabat? Berhak merubah prinsip hidup seseorang? Jelas nggak lah. Esensi persahabatan adalah menerima apa adanya. Almost 5 years, dan gue fine2 aja dengan sikap dia. Ketika gue ga melihat satupun sisa2 temen kuliah dia yang masih deket hingga saat ini, atau temen kos yang sudah berapa kali pindah, atau temen dari smu dulu. Nggak ada satupun. And I still there. Menyisihkan sedikit waktu yang gue punya, yang seharusnya gue bagi juga dengan temen2 yang lain, sahabat2 yang lain, tapi ga pernah cukup. Gue ga mikirin itu semua.
Juga ketika dia bilang nggak pernah punya rasa sama cowoknya (sekarang sudah mantan), hell yeah, kenapa bisa bertahan 3,5 tahun?
Apa karena sudah menemukan orang baru? Silahkan… Ini hidup elo, elo berhak menentukan siapa yang datang dan pergi. Gue cuma bisa kasih pandangan, dan ketika balik disudutkan, yah gue diam aja.
Ketika segala sesuatu tentang cowok gue dicela, meski gondok, gue diamkan saja. Yeah, selera elo emang paling top. Dan gue memilih untuk tidak berkonfrontasi. Apa untungnya?
Ketika semua temennya yang lain sibuk dengan kegiatan sendiri2 semenjak lulus kuliah, kerja dari pagi hingga malam, maybe no time no money untuk hura2, gue menyediakan waktu (secara jabatan gue dikantor lebih flexible soal beginian) untuk sekedar hang out, nonton atau window shopping dengan dia.
Tetap aja nggak cukup.
And I have my own life. I have my own dream.
Mungkin karena sejak November lalu, kegiatan sore hari gue disibukkan dengan aktifitas lain yang menyita waktu. Bahkan untuk urusan love life, bener2 dipas-pasin waktunya.
So, since that time, sering banget gue denger kata2 ini, mulai dari
“Ayolah, gue pengen banget nonton film ini, masa loe tega gue nonton sendirian?”,
“Elo pergi sama cowok elo minggu depannya aja, minggu ini pergi ama gue aja! Gue butuh baju baru nih, untuk datang ke acara ini”,
hingga kalimat seperti ini,
“Elo ga asik!”.
Apa yang bisa gue lakukan? Menelan ludah dan (jujur!) feeling guilty. Sometimes, kalo udah capek banget, malam2 hari, gue sering mikir, worth it ga sih yang sedang gue lakukan? Kerja dari pagi sampe sore dikantor, nggak puas2nya, lalu kerja lagi dari jam pulang kantor sampe larut malam. Entah itu dilakukan diluar rumah, atau dirumah. Apa nggak lebih baik milih salah satu? Secara bisnis sendiri masih belajar merangkak, berarti gue kerja kantoran saja? Lalu isi hidup dengan leyeh-leyeh, santai-santai, foya-foya? Hidup cuma sekali kan?
Tapi nggak, gue kan bukan dia? Yang dengan gampangnya keluar dari kerjaan yang baru 2 bulan ditekuninya cuma karena malas bangun pagi. Lalu masuk lagi ke perusahaan itu setelah ditawari kompensasi yang cukup menggiurkan. Lalu keluar lagi 3 bulan berikutnya karena jenuh. Pakai sepatu atasan elo itu, gimana rasanya diperlakukan seperti itu, nyari orang baru bukan hal yang mudah tau.
Gue bukan orang yang dengan gampangnya menghabiskan uang orangtua untuk ngambil kuliah tingkat master, cuma karena gue ga mau disebut pengangguran karena ga bekerja setelah tingkat sarjana gue selesai.
Duh, sebenarnya bukan mau ngejelek2in orang sih, cuma kadang gue sebel sama prinsip hidup yang seperti itu. Apa daya, kalo gue coba ngasih pendapat, yang ada malah disinisin. So, what can I say?
Selama ini mungkin bener, waktu gue untuk bersosialisasi agak kurang. Semakin sibuk, maka semakin memilah2 kegiatan bernilai tambah mana yang bisa diikuti, yang mana yang masih bisa diundur. Hei… ini ga selamanya kan?
Nah, singkat cerita, suatu hari beberapa minggu yang lalu, gue pernah minta tolong orang yang gue panggil sahabat ini (kita panggil saja A) untuk ngambil sepasang mur baut no 10 di kantor tempatnya bekerja, secara motor gue emang gue beli disana.
Gue suruh dia nyolong? Eittsss, enak aja. Ceritanya gini, gue kenal juga seorang temen kerjanya (sebut saja si B) yang sekarang udah ga kerja disitu lagi. Kebetulan ketemu pas mur baut nomor plat motor gue copot, langsung aja gue tanyain nama barangnya apa dan biasanya bisa beli dimana (secara gue buta sama sekali soal sparepart dan sejenisnya).
Si B bilang ngapain beli, minta aja ke showroom ex kantor dia, biasanya dikasihin gratis.
Nah, wajar dong, gue langsung sms si A, untuk ambil mur baut ini sepasang. Setelah perdebatan sengit bahwa susah ngambilnya, ga tau tempatnya, ntar si bos marah, akhirnya (pada detik gue mau menyerah dan mau bilang bahwa gue beli aja ditempat lain) dioke-in sama si A.
Sorenya, si A khusus telpon gue untuk menceritakan susahnya pengalamannya mengambil mur baut itu. Bagaimana hamper ketahuan sama bosnya (huaaahhh, gue kan ga suruh nyolong. Mana gue tau kalo si bossnya ga ngijinin ngasih mur baut itu), lalu bagaimana kerjaannya terbengkalai karena harus memikirkan siasat mengambil mur baut itu, and so on, and so on. Menghela nafas, gue mikir, lebih baik tadi gue beli aja ditempat lain. Seribu dua ribu perak kali tuh barang.
Score: 1-0 for her
Nah, itu kejadian pertama. Kira2 seminggu setelah itu, gue sms A. Untuk minta dia nemenin gue dirumah secara adek gue dan sepupu2 yang laennya pada nginap plus ada yang lagi pulang kampung karena kuliahan pada libur. Well, gue dan A sering saling nginap2an satu sama lain, so it was not a very2 extraordinary thing actually. Dia bales nggak bisa, coz udah terlanjur bikin acara dengan temen laennya. So, ya udah, what can I say? Nyari temen laen aja buat diajakin nginap.
Tiba2 sms dia datang, n said like this, “Ter, ya udah deh, gini aja, loe temenin gue nonton di CL, trus kita hangout di Oh la la. Gue batalin janji gue malam ini deh.”
See? Kalo elo dibilangin gitu, persepsinya apa? Si A bersedia ngebatalin janji dan nemenin elo kan? Selama elo mau nemenin dia nonton dan hangout.
Sejujurnya, film yang lagi mo dinonton itu bukan selera gue, dan seperti yang gue bilang tadi, kerjaan dirumah itu numpuk. Tapiiiii… disinilah payahnya gue, karena gue ga mau tinggal sendiri dirumah malam itu, dan gue yakin kalo ga gue iyain, maka ga mungkin banget dia mau nginap.So gue iyain. Jadilah kita pergi sore itu sepulang kerja.
And guess what? Ketika malamnya mau pulang, dengan enaknya dia bilang bahwa dia mau pulang ke rumahnya. Terang aja gue melotot? Jadi elo mau bilang, gue wasting time ga ada hasil neh nemenin elo kesana kemari?
Tau ga dia bilang apa? “Ih, gue kan ga bilang mau nemenin elo nginap? Gue kan cuma ngajak nonton dan makan doang? Liat deh isi sms gue.”
Sh*t, dia benar. Ga ada isi sms dia yang menyatakan mau nginap di rumah gue. Sejenak gue merasa kayak orang bego diparkiran saat itu. Tapi akhirnya dengan ketus gue bilang aja bahwa isi sms dia menyiratkan begitu. Dan kalo dia nggak mau, seharusnya bilang dari tadi, biar gue bisa nyari temen lain. Kalo udah malam kek gitu, siapa juga yang bisa diajakin nginap?
Akhirnya setelah perdebatan panjang, akhirnya dia nyerah, nemenin gue dirumah.
Score: 2-0 for her
Beberapa hari kemudian, dia telpon gue untuk minta tolong nganterin dia ke kampus pasca sarjananya dia. Padahal ketika awal2 ngobrol di telpon, dia udah nanya duluan, sore ntar ada acara ga dan udah gue jelasin bahwa gue udah janjian sama orang untuk suatu kepentingan, tetep aja dia nggak mau terima gue ga bisa nemenin dia. Bahwa harusnya gue batalin janji (yang sudah gue schedul-in dari minggu lalu), atau biar aja orangnya nunggu sejam sampai gue selesai nganterin dia, dan berbagai alasan lain yang menurut gue ga logis. Beside, dia kan bisa naek taksi? Ini bukan kondisi dimana dia bener2 membutuhkan gue banget, masih ada solusi lain kan?
Tapi dia ga mau tau.
Dan menutup telpon dengan kata2 ini: "Ohh... jadi gitu yah? Kalo elo yang minta tolong, selalu gue bantuin. Sekarang gue minta tolong, elo ga mau bantu. Ya udah, laen kali kalo elo minta tolong lagi, gue bilang ga bisa!" Brakkk... gagang telpon dibanting.
Whatt...?????? @#$%^&*&^%$....!!!
Mari kita klarifikasi:
- Bukannya gue ga mau bantu, tapi ga bisa.
- Kondisi elo ga urgent banget, tiap harinya elo ke kampus naek taksi, cuma kebetulan hari itu elo bintitan. Malu apa sama sopir taksi sampe harus gue yang anterin segala?
- Selalu loe bantuin? Yeah, rite... kalo kita kilas balik 5 tahun ini, akan keliatan yang mana yang bener. Jangan ngaca cuma dari dua kejadian terakhir dong.
- Gue ga pernah bantuin elo? Yaaa.... sekali lagi, liat kejadian selama 5 tahun ini. Kalo dibikin list, gue yakin daftar siapa yang lebih panjang.
- And.... jangan pernah banting telpon lagi di depan hidung gue. Gileeee..... siapa yang salah, siapa yang marah sih?
Apa yang dia harapkan? Gue telpon elo? Minta maap?
Bukannya gue gengsi, tapi so far, gue rasa perlu juga kondisi seperti ini. Ketika persahabatan dihitung dengan untung rugi, gue rasa masing-masing dari kita perlu instropeksi diri deh. Soalnya kalo diliat untung rugi, berasa gue untung dimana selama ini selain ditempa supaya memiliki tenggang rasa dan toleransi yang amat tinggi akan semua kesinisan elo sama lingkungan dan sekeliling elo?
Dewasalah, teman. Nggak selamanya kita bisa bergantung sama orang lain. Ada kalanya, jalan sempit itu harus kita lalui sendiri. Tapi selama kita tau kita masih punya sahabat2 yang siap mendampingi, menerangi dan memberi petunjuk pada kita, hati kita akan selalu tenang.
Dan gue benar2 bersyukur pada Tuhan, memiliki begitu banyak sahabat dalam hidup, yang nggak pernah mikir untung rugi meski kadang gue ga punya banyak waktu untuk mereka.