Tuesday, December 30, 2008

Kaladeiskop 2008

30 Desember 2008.
2 hari lagi tahun 2008 berakhir. Saatnya untuk melirik sebentar ke belakang, apa saja yang sudah terjadi dalam hidup seorang Ester di tahun ini.

Yang pasti tidak seheboh dewi persik atau marcela zalianty lah :p. Tapi tetap saja berharga untuk dikenang diri sendiri, dan siapa tahu, anak cucu kelak bisa mengakses mp ini

Here we go...

Januari 2008 persiapan pernikahan mulai berasa gelombangnya. Jika ditahun 2007 masih berupa rencana2 doang, lirik2 toko perhiasan tiap ngelewatin, ngumpul2in brosur pameran pernikahan, maka di januari 2008 mulai take action. Dimulai dengan ikut Kursus Persiapan Perkawinan.

Februari - Maret 2008, mulai bayar hasil bookingan untuk pernikahan. Bahu membahu sama calon suami (secara bener2 idealis ingin mewujudkan pernikahan atas biaya sendiri), sehingga uang jajan pun agak direm, supaya terwujud pernikahan seperti yang direncanakan

April 2008, Acara lamaran. Serasa melayang saat sadar bahwa semua persiapan ini tinggal selangkah lagi menuju pelaminan.

19 Juli 2008, akhirnya hari yang ditunggu2 tiba juga. Senangnya karena semua berjalan dengan lancar dan menjadi kenangan indah seumur hidup. Tapi jauh lebih senang lagi karena sadar sejak hari itu selalu sama2 dengan Ivan pagi siang malam (hahaha, pengennya ke kantor juga bareng2). Ga perlu nunggu akhir minggu biar bisa jalan bareng (abis rumahnya saling jauh2an sih). Dan ga sabar ingin membuktikan diri bisa jadi istri yang baik (ngarep ), ngurusin suami (merasa keurus ga sih, van?), praktekin resep2 masakan yang udah dikumpul selama ini (kok perasaan sampe sekarang cuma goreng ama tumis doang yah bisanya ), pokoknya segala angan2 udah terbentang di depan mata deh.

Agustus 2008, tau kalo sedang hamil. Rasanya komplit sudah kebahagiaan sebagai wanita (taelah, bahasanya). Bahagia, kuatir, excited, cemas apakah bisa jadi ibu yang baik bagi si jabang bayi, secara tingkah sendiri masih slebor dan jauh dari kelayakan menjadi seorang ibu. Tapi sampe sekarang ga akan berhenti berusaha memberikan yang terbaik buat si adek bayi.

November 2008, resmi mengundurkan diri dari jabatan di kantor dan memutuskan untuk ngurus bisnis sendiri yang sudah dirintis dari 2 tahun lalu. Dengan dukungan penuh dari suami, bertekad menjadi ibu yang bekerja dari rumah, sehingga kelak perhatian dan kasih sayang untuk si baby jadi maksimal tanpa terinterupsi oleh si baby sitter.

Desember 2008, here i am. A trully happy mother wanna be. Working from home. Have enough time to run my business from home, to prepare anything to welcoming the baby, and of course to taking care of my beloved husband.

Begitulah sekilas hidup di tahun 2008.
Resolusi tahun 2009? Cuma 1, menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga. Doakan yaa...

Happy New Year, everyone. Be blessed...!!!

Saturday, December 27, 2008

Ini postingan mengandung sara

Gue benci banget sama orang2 yang mendiskreditkan agama lain.
Lagi kesel2 karena satu hal lain, tiba2 ditivi ngeliat satu tayangan religius, kesal gua makin menjadi2.

Menayangkan tayangan itu sah2 saja, meyakinkan pemeluk yang seagama dengan lu agar makin religius juga sah2 saja, tapi tidak dengan menayangkan simbol, agama, kitab suci agama lain dengan narasi yang sungguh mendiskreditkan.
Seolah2 kami akan masuk neraka karena tidak seagama dengan lu. Yeah rite... Masih hidup dijaman apa pak? Ga kenal ama yang namanya toleransi beragama, saling menghargai, saling menghormati?

Postingan ini mungkin terkesan sangat emosional ( ya iya, emang sedang kesal banget ditambah2 dengan tayangan itu). Jadi terbayang deh beberapa kejadian dalam hidup yang kalo diingat ingat suka bikin kesal.

Sebagai seorang Buddhis, keyakinan yang sangat melekat dengan kultur tertentu, gue sudah sangat biasa sedari kecil dikelilingi oleh orang2 yang salah persepsi tentang agama gua. Mereka kebanyakan adalah orang2 deket. Om, tante, tetangga, temen, dan lain2. Pengetahuan mereka tercampur aduk dengan ritual2 yang dilakukan oleh budaya tertentu. Okelah kalo soal itu. Tapi kalo sampe mereka mulai ngerecoki gua dan keyakinan gua, well.. ayo sini kalo berani. Resiko tanggung sendiri kalo sampe malu.

Lha mereka ga tau apa2 tentang keyakinan gue, berani2nya menilai ini itu. Kenapa sih kita ga bisa hidup diam2 saja. Jangan ngerecokin keyakinan orang lain. Yang penting kan dia ga ganggu,ga merusak, ga ngajak2in orang masuk keyakinannya (ini gue merasa aneh banget, agama kok kayak multilevel, emang kalo berhasil ngajak orang, loe dapat bonus?) ck..ckk...ckk....
Proses menumbuhkan keyakinan seseorang itu apalagi berhubungan dengan Tuhan, ga segampang yang kita duga. Jika hati tidak tergerak ya percuma saja.

Jadi, jika lo adalah orang2 yang gue kenal, temen2, sodara2, jika tidak mau dipandang rendah oleh gue, cukup tunjukkan saja lu beriman dan taat sama Tuhan. Jangan coba2 mendiskreditkan agama lain seolah2 agama lu yang paling bener, karena semua orang di dunia juga begitu (yaiyalah, kalo bukan yang paling bener menurut dia, ngapain dia percaya?). Jadi apa dunia ini kalo pertumpahan darah semua dipicu masalah agama? Kasian...

Karena itu, tolong deh... belajar lagi yang namanya toleransi beragama.