Malam ini kau menghubungiku lagi, setelah pertengkaran dashyat tadi sore. Pasti untuk minta maaf, dan mengajakku damai lagi. Akh…
Tahukah kamu, seratus juta maaf lagi pun masih tersedia untukmu. Seratus juta maklum selalu ada untukmu. Kau bahkan tak perlu meminta.
Malam ini aku tertawa lagi dalam candamu, setelah tangis sedu sedan tadi sore. Aku bahagia sekaligus terkurung nelangsa, duka yang begitu akrab di jiwa.
Malam ini, aku kembali tersadarkan, betapa cinta tak berbelas kasih. Ataukah nafsu yang bertahta? Aku hanya tahu, aku terbelenggu cintamu. Tak mau pergi, meski derita merantai jiwa, mereguk asa dari sukmaku. Terhempas tak bersisa. Berhadapan denganmu, aku hanyalah puing-puing dari kemunafikan jiwa.
Bila berontak, ini bukan cinta. Bila cinta kenapa jiwa ini berontak? Aku lelah mencari jawab yang selalu terhempas dalam heningnya malam. Jenuh meneriakkan rinduku pada desau angin, tak kunjung berbalas, hanya lenyap ditelan kekosongan.
Malam ini kau menghubungiku lagi. Mengucap maaf yang ingin dan tak ingin kudengar. Semakin mengumandangkan ketimpangan, menerakan ketakcocokan, entah dari sudut pandang siapa.
Aku selalu dan selalu mencintaimu. Namun bila hadirku kini mereguk kepak sayapmu, kau pasti tak percaya, jika aku lebih memilih, untuk tak pernah mencintaimu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
5 comments:
aku menjadi 'selamat tinggal'
karena mungkin hanya kalimat itulah yang dapat membuatmu bahagia
begitu yah ?
bingung mo komen apa...
have a great new week, belle!!
semoga bisa dimaafkan ^_^
duh puitis sekali dikau ... kalo si J yg bikin ulah, ntar biar gw panggilin preman singapore buat jitak si J... aniwei, have a nice day dear.
puitis banget postingnya, es... duh kalimat terakhir itu bener2 dehhhh nyesek di hati.
semoga semua baik2 saja untukmu :)
Post a Comment