Friday, December 01, 2006

December coming through

Nggak terasa sudah menginjak bulan Desember. Ini bulan terakhir di akhir tahun.
Abis baca renungan di blog bapak ini, gue jadi tersadar, bener... sekarang udah Desember. Dan betapa waktu berlalu tanpa kita sadari.

Bahkan gue merasa waktu seperti berlari, dan kalo ga sigap, mungkin gue akan tertinggal dibelakang.

Jadi ingat, dulu.... duluuuu banget, gue begitu ingin waktu cepat2 berlalu.

Terlebih ketika masih kecil, pengen cepat2 gede, pengen bisa melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang gede.

Dulu, pengen cepat2 lulus smu biar bisa kuliah ke jakarta, pengen banget bisa ambil keputusan sendiri tanpa dipengaruhi orang lain, pengen banget bisa beli ini itu tanpa diomelin orangtua, pengen bisa dandan dan mengenakan high heels, duhhh... pengennya banyak deh...

Dulu, gue merasa waktu lamaaaaa banget berlalu. Kalo lagi mo nunggu liburan sekolah, keknya hampir hopeless deh dan sampe bilang ke diri sendiri, jangan nunggu! Ntar liburan makin lama datangnya kalo ditunggu.

Sekarang? Perasaan baru kemaren gue ikut malam tahun baruan menyambut 2006, sekarang dah mau tahun baruan lagi.

Membaca postingannya Hendri, bikin gue mencoba merfleksikan ke diri gue sendiri. Sepertinya sudah terjerumus ke dalam arus kehidupan kota besar, yang semakin sibuk dan sibuk. Betapa hampir setiap hari gue berharap memiliki 48 jam sehari bahkan 72 jam sehari, sehingga bisa melaksanakan semua rencana2 gue tanpa harus ada yang miss.

Gue pengen punya kehidupan yang balance, dari segi keluarga, karir, love life, social life, dan semua life-life yang lain. Terlalu serakahkah? So, sepertinya 72 jam sehari is perfect. Meski gue tau yang namanya manusia pasti ga pernah merasa cukup, besok2 minta 144 jam sehari, hehehe...

Tapi waktu nggak pernah berkompromi. Hidup ini keras dan penuh perjuangan, tapi satu hal yang gue sadari sampe sekarang, menjadi dewasa itu sulit, amat sulit. Terkadang menyakitkan dalam prosesnya. Ada tangis, darah, tawa, canda, semua campur aduk. Dan sesekali sering membuat gue ingin menyerah.

Ada banyak waktu dalam hidup yang tidak begitu ingin gue ingat, mungkin karena menyisakan kenangan pahit. Tapi tetap ga bisa di delete seperti file di komputer, gue anggap itu seni dalam hidup, dan pelajaran untuk masa depan.

Untunglah, ada orang2 disekeliling gue. Memiliki mereka adalah anugrah terbesar yang bisa dimiliki seorang ester. Mengingatkan ketika gue lupa, memarahi ketika gue bandel, menangis ketika gue bersedih, tertawa ketika gue bahagia, dan yang terpenting, tetap berada di sana, di tempat yang gue tau mereka ada untuk gue.

Masih ada banyak waktu yang ingin gue peroleh dimasa datang, dengan segala impian2 yang memenuhi benak dan pikiran gue. Sadar sesadar-sadarnya, perjalanan masih panjang, dan dengan kehendakNya, gue ingin menjadikannya seindah mungkin.

Waktu nggak akan pernah berkompromi dengan kita, tinggal kitalah sebagai manusia, yang harus menggunakannya dengan sebaik-baiknya.

No comments: