Terlalu banyak ide,
terlalu banyak inspirasi,
terlalu bersemangat
terlalu sibuk,
jadinya saya pusing sekarang....
Monday, July 16, 2007
Wednesday, June 13, 2007
Quarter life excitement
Yuuupppp...!!!
I'm 25 years old now.
Seperempat abad, hiks... Membuat gue rada kecut juga menerima ucapan2 selamat ulang tahun dari temen2. Eitss... jangan salah sangka, bukan maksud hati ga bersyukur ada orang2 yang ingat dan care ke gue, cuma mengingat fakta umur semakin sedikit sisanya, tanggung jawab dan beban moral terhadap sekeliling semakin gede, yaaaa wajar dong gue jadi aware.
Tapi diatas semua itu, ulang tahun yang ke 25 ini terasa spesial. Why?
Ucapan2 dari teman2 yang care tidak henti2nya sejak pukul 00.00 wib tanggal 12 Juni 2007, obrolan2 ringan dan hangat dengan Ai Je ditelepon tengah malam itu sambil menunggu pergantian hari, merupakan berkah terindah yang gue miliki.
Begitu juga keesokan harinya. Setidaknya tekad bahwa hari ini adalah hari bahagia, jadi gue ga boleh marah2, bersyukur sepanjang hari bukan hal yang susah untuk dilakukan.
Lalu bagaimana rencana kencanku dimalam itu?
Sejak ABG, ulang tahun ke 25 dalam impian gue adalah ulang tahun yang elegan, nggak usah rame2 kek 17 tahunan, cukup romantic dinner with my boyfriend. Ditempat indah dan romantis? Candle light dinner? Itu bonus! Itu idealnya.
So, sedari kemarin gue mikirin mau ngajak Ai Je kemana dihari ulangtahun gue. Secara makan2 dengan keluarga gue jadwalkan hari ini, kemaren gue mesti les inggris (yang amat sangat pengen gue bolosin, tapi mengingat akan mendapat tatapan alis mata naik sebelah dari Ai Je), maka gue terpaksa datang juga untuk bercas-cis cus di kelas. Sementara kepala gue dipenuhi dengan berbagai rencana dinner dengan Ai Je selepas kelas inggris ini.
Ketika nyampe rumah, Ai Je sudah sampe duluan, nggak tau dia nunggu berapa lama. Tapi gue liat tampangnya capek banget. Mungkin kerjaan kantor lagi banyak2nya. Betapapun pengen menikmati romantic dinner dengan Ai Je, gue sadar bukan langkah bijaksana memaksakan hal itu saat ini.
Lalu saat sudah berpasrah dan membesarkan hati sendiri bahwa toh besok Ai Je juga ikut makan2 bersama keluarga dan sepupu2 gue, tiba2 Ai Je mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Gue tau dia akan mengeluarkan hadiah untuk gue, meski gue blom tau apa hadiahnya. Tapi yang merupakan surprise kecil yang sangat manis adalah Ai Je mengeluarkan sepotong kue berlapis coklat lalu menaroh lilin kecil diatasnya, membakar lilinnya, menyodorkan kue itu lalu mengucapkan selamat ulang tahun ke gue. Hikkkssss, dadaku penuh sesak bahagia.
Dan akhirnya kami menghabiskan malam itu dirumah saja, menonton dvd desperate housewife seasons 3. Ai Je bertindak sangaaat manis sebagai bagian dari hadiah ulang tahun gue secara dia nggak suka opera sabun kek desperate housewife yang katanya banyak mehe2 dan problemnya terlalu mengada-ngada. Tapi malam itu tanpa komplainan menemani gue menonton dan nggak sekalipun megang2 remote dan mengganti ke siaran favoritenya. It was so sweet of you, honey...
Gue nggak pernah membayangkan duduk berdua saja didepan tivi bisa begitu menyenangkan dan nggak membosankan. Dan rencana untuk makan diluar, terasa tidak begitu menarik lagi.
Mungkin ulang tahun ke 25 gue ini bukan yang terelegan seperti yang ada dibenak gue selama ini, tapi yang pasti, ini ulang tahun yang sangaaat manis dan indah yang menambah goresan sejarah dalam hidup gue. Semoga ini bukan yang terindah, sebab tentu saja, gue ingin ada banyaaaaakkkk ulang tahun lagi yang lebih indah dari ini, yang tentu saja bersama Ai Je.
Tapi tentu saja, hal ini ga berarti Belle berhenti bermimpi tentang impian terindah di hari ulang tahunnya.
Ke depannya? Hmmmm... Ulang tahun ke 50 yang akrab dan hangat, dikelilingi keluarga, suami, banyak anak-anak, cucu-cucu yang masih kecil, sepertinya indah untuk dibayangkan.
let's make it happen
^-*
I'm 25 years old now.
Seperempat abad, hiks... Membuat gue rada kecut juga menerima ucapan2 selamat ulang tahun dari temen2. Eitss... jangan salah sangka, bukan maksud hati ga bersyukur ada orang2 yang ingat dan care ke gue, cuma mengingat fakta umur semakin sedikit sisanya, tanggung jawab dan beban moral terhadap sekeliling semakin gede, yaaaa wajar dong gue jadi aware.
Tapi diatas semua itu, ulang tahun yang ke 25 ini terasa spesial. Why?
Ucapan2 dari teman2 yang care tidak henti2nya sejak pukul 00.00 wib tanggal 12 Juni 2007, obrolan2 ringan dan hangat dengan Ai Je ditelepon tengah malam itu sambil menunggu pergantian hari, merupakan berkah terindah yang gue miliki.
Begitu juga keesokan harinya. Setidaknya tekad bahwa hari ini adalah hari bahagia, jadi gue ga boleh marah2, bersyukur sepanjang hari bukan hal yang susah untuk dilakukan.
Lalu bagaimana rencana kencanku dimalam itu?
Sejak ABG, ulang tahun ke 25 dalam impian gue adalah ulang tahun yang elegan, nggak usah rame2 kek 17 tahunan, cukup romantic dinner with my boyfriend. Ditempat indah dan romantis? Candle light dinner? Itu bonus! Itu idealnya.
So, sedari kemarin gue mikirin mau ngajak Ai Je kemana dihari ulangtahun gue. Secara makan2 dengan keluarga gue jadwalkan hari ini, kemaren gue mesti les inggris (yang amat sangat pengen gue bolosin, tapi mengingat akan mendapat tatapan alis mata naik sebelah dari Ai Je), maka gue terpaksa datang juga untuk bercas-cis cus di kelas. Sementara kepala gue dipenuhi dengan berbagai rencana dinner dengan Ai Je selepas kelas inggris ini.
Ketika nyampe rumah, Ai Je sudah sampe duluan, nggak tau dia nunggu berapa lama. Tapi gue liat tampangnya capek banget. Mungkin kerjaan kantor lagi banyak2nya. Betapapun pengen menikmati romantic dinner dengan Ai Je, gue sadar bukan langkah bijaksana memaksakan hal itu saat ini.
Lalu saat sudah berpasrah dan membesarkan hati sendiri bahwa toh besok Ai Je juga ikut makan2 bersama keluarga dan sepupu2 gue, tiba2 Ai Je mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Gue tau dia akan mengeluarkan hadiah untuk gue, meski gue blom tau apa hadiahnya. Tapi yang merupakan surprise kecil yang sangat manis adalah Ai Je mengeluarkan sepotong kue berlapis coklat lalu menaroh lilin kecil diatasnya, membakar lilinnya, menyodorkan kue itu lalu mengucapkan selamat ulang tahun ke gue. Hikkkssss, dadaku penuh sesak bahagia.
Dan akhirnya kami menghabiskan malam itu dirumah saja, menonton dvd desperate housewife seasons 3. Ai Je bertindak sangaaat manis sebagai bagian dari hadiah ulang tahun gue secara dia nggak suka opera sabun kek desperate housewife yang katanya banyak mehe2 dan problemnya terlalu mengada-ngada. Tapi malam itu tanpa komplainan menemani gue menonton dan nggak sekalipun megang2 remote dan mengganti ke siaran favoritenya. It was so sweet of you, honey...
Gue nggak pernah membayangkan duduk berdua saja didepan tivi bisa begitu menyenangkan dan nggak membosankan. Dan rencana untuk makan diluar, terasa tidak begitu menarik lagi.
Mungkin ulang tahun ke 25 gue ini bukan yang terelegan seperti yang ada dibenak gue selama ini, tapi yang pasti, ini ulang tahun yang sangaaat manis dan indah yang menambah goresan sejarah dalam hidup gue. Semoga ini bukan yang terindah, sebab tentu saja, gue ingin ada banyaaaaakkkk ulang tahun lagi yang lebih indah dari ini, yang tentu saja bersama Ai Je.
Tapi tentu saja, hal ini ga berarti Belle berhenti bermimpi tentang impian terindah di hari ulang tahunnya.
Ke depannya? Hmmmm... Ulang tahun ke 50 yang akrab dan hangat, dikelilingi keluarga, suami, banyak anak-anak, cucu-cucu yang masih kecil, sepertinya indah untuk dibayangkan.
let's make it happen
^-*
Thursday, May 31, 2007
M A T I
Aku ini...
Memang akan mati tanpamu
Tapi aku juga akan mati
Bila kau mati ditanganku.
*halah, ngomong apa sih? lagi error nih!*
Memang akan mati tanpamu
Tapi aku juga akan mati
Bila kau mati ditanganku.
*halah, ngomong apa sih? lagi error nih!*
Monday, May 28, 2007
A piLe oF meMoRy tO rEmeMbEr
Waaakkssss.... udah hampir akhir Mei. Dah lama nggak ngeblog, nggak sempet, nggak mood, nggak ada ide, huehehehe....
Tapi akhir2 ini sebenarnya banyak peristiwa yang terjadi, menyesal juga nggak menorehkan sedikit kenangan di blog bahkan di diary. Karena merangkum serpihan memory sepertinya nggak akurat, apalagi mengenai sensasi perasaan yang dirasakan ketika suatu peristiwa terjadi. Hanya saja, kayaknya kemaren2 itu lagi males aja numpahin perasaan, mungkinkah hati ini jadi beku? Huahahaa, jangan muntah2 gitu dong, temanz pembaca... gue kan cuma coba2, siapa tau berbakat jadi penyair :p
Akhir2 ini keknya perasaan gue tegang mulu, entah karena kerjaan kantor high pressure akhir2 ini, atau karena bad relationship dengan seseorang, atau entah karena apa. Bisa jadi karena lagi diet ketat yang konon kata orang bisa menyebabkan depresi atau mood yang ga terkontrol.
Tapi ini salah satu hal yang menggembirakan gue dalam 2 bulan ini. I've lost 7 kgs at three months from february 2007. :D
More ways to go... ^-^
I think so... -_-
I hope so... :(
Beberapa teman bilang ini terlalu drastis, tapi menurut gue, ga terlalu ekstrem kok dietnya. Since Feb, gue merubah pola makan dengan yang lebih sehat. No junk food, no snack, no krupuk (hiks...), and a lot of no no no lainnya.
Nasi katringan di kantor awal2nya gue minta office girl sisihin setengah, terserah dia mau kasih siapa. Lama2, sekarang gue tinggal makan 1/4 nya. Makan malam dikurangi, perbanyak makan buah2an. Meski sampe sekarang godaan apalagi kalo weekend itu bener2 bikin mental goyah, hehehe....
Tapi gue puas ama hasilnya... Hanya saja, seperti biasa, gue selalu curiga dengan keadaan yang berjalan baik-baik saja, seolah ketenangan yang ada akan disusul dengan badai tornado yang menghancurkan.
Oke, berlebihan memang, maksud gue, ada rasa takut jika suatu saat gue jenuh berpola makan sehat ini, dan semua usaha gue sia-sia. Karena terus terang aja, yang sehat itu nggak enak, yang enak itu ga sehat (duh, iklan banget yah...
Balik lagi ke topik awal, mungkin juga ketegangan gue berasal dari seringnya nonton CSI akhir2 ini. Yeeppp... Crime Scene Investigation. Gue tau serial ini udah lama, dikasih tau sama temen. Tapi waktu itu dengernya aja malas. Sejak nonton pertama kali serialnya di TV kabel (karena ga bisa bekerja dalam keadaan hening dan gue bosen muter koleksi cd yang seuprit, jadi terpaksa nonton secara siaran yang lain lagi jelek atau udah pernah nonton) gue nonton serial ini padahal ga tau judulnya, dan gue suka. Pas liat judulnya, alamaaakk... CSI, season 7 pula. Jadilah daku berburu DVDnya. Dari season 1 sampe 6. Sekarang gue udah dapat 5 season dari 6 season yang gue cari.
Ga puas sampe situ, gue berburu versi Miami dan New York nya. Yaaahhh... saya sudah menjadi addicttive, padahal secara mental adalah penakut banget, tetep aja sok nonton filem itu, hehehee....
Kehidupan kantor juga bergejolak, mulai dari berusaha semaksimalnya memuaskan keinginan bos yang nggak ada habis2nya, sampe capek ati mengadapi staff yang "au-ban" banget sehingga (maaf, saya memang kejam), gue terpaksa mengusulkan kepada direksi untuk mem -phk kan staff ini atau gue yang akan resign (ancaman yang nggak perlu sebenarnya, mengingat permintaan gue itu masih masuk akal karena didukung alasan2 yang kuat. Beside... duh, milih berhentiin prajurit atau komandannya? hayooo?)
Lalu awal bulan Mei ini gue baru ikutan kursus di salah satu lembaga yang gurunya native semua. Deeeeehhhhh, nilai positifnya adalah: mata jadi segar, karena banyak pemandangan bagus alias bule2 keren (meski yang udah expired juga ada sih, hihihi...). Cuma, memang tak ada gading yang tak retak, gue salah milih jadwal. Ngambilnya stengah5 sore. Ceritanya karena jam pulang kantor gue lebih cepet dr yang laen alias jam 4, gue pikir mending ambil stengah 5.
Ohya, daku cuma dapat grade Intermediate 2 waktu ujian penempatannya. Kata yang nguji sebenarnya gue ini ada di perbatasan antara inter2 dan inter3. Hiks, kasian banget Inggrisku yah.
Nah, karena kelas inter3 ga jelas kapan mau mulai, sementara semangat gue untuk nge-les sedang menggebu-gebu, meski ditawarin inter3 dan disuruh nunggu, gue keukeh ngambil inter 2.
Begitu hari pertama, alamaaakkk, keknya gue yang paling tuwir deh dikelas ini. Yang paling deket umurnya dengan gue tetep aja lebih muda setahun dari gue, hikk...hikkkss.... Yang paling muda? Huaaaaa... ada yang 14 tahun, bo. Masih smp.
Lalu gue langsung bersumpah dalam hati, kalo naik level, gue akan pilih jam 7 malam. Habisnya, ni anak-anak biarpun masih culun2, tp inggrisnya jago2. Kan gue jadi tengsin sendiri, hehehee...
Pernah ngintip kelas inter1 yang jam 7 malam, semua isinya seangkatan gue, pada pake kemeja kerja dan yaaaahhhhh ga lebih mudalah dari gue, hehehe...
Jadi gue kan ga nyolok sendirian, hiks.
Generally, suasana kursusnya menyenangkan. Apalagi guru2nya ada yang keren. Yah, anggap aja refreshing dari pulang kerja, bisa ngobrol2 sambil maen games yang seru2 dengan bule keren, pura2 pasang tampang bego biar dideketin dan diajarin privat. Huahahahaha, beneran gue merasa kayak devil waktu menjalankan siasat ini, hehehehee... Abisnya anak2 laen pada polos2 deh mukanya, hehehehe....
Another story of my life, Ai Je is becoming a part of my life now. Well, love life is complicate. Don't ask me how i feel, and how it could be happen, the only thing i know is I'm very grateful to have him in my life.
Perjalanan hidup ini berliku dan kita nggak pernah tau akan mengalir dan bermuara kemana. Meski bukan penganut "Let it flow", tapi gue bukan tipe orang yang suka menentang takdir. So, Let It Be mungkin lebih tepat. Kalo semua ini akan ga berhasil juga Ai Je, mungkin memang saatnya gue untuk menyerah.
But, kejadian ini mungkin sebagai bukti ,"Never give up in faith!"
Sekarang tinggal liat sajalah, sampe mana kita sanggup menjalaninya kan? Kalo memang akan berakhir seperti dulu lagi, paling nggak, gue nggak akan menyesal ketika membaca kenangan ini, I've try my best.
I can, I'm sure all of us can do that. Keep the faith! (Astagaaaa...! Bon Jovi abissshhh..!!! Hehehe...)
Tapi akhir2 ini sebenarnya banyak peristiwa yang terjadi, menyesal juga nggak menorehkan sedikit kenangan di blog bahkan di diary. Karena merangkum serpihan memory sepertinya nggak akurat, apalagi mengenai sensasi perasaan yang dirasakan ketika suatu peristiwa terjadi. Hanya saja, kayaknya kemaren2 itu lagi males aja numpahin perasaan, mungkinkah hati ini jadi beku? Huahahaa, jangan muntah2 gitu dong, temanz pembaca... gue kan cuma coba2, siapa tau berbakat jadi penyair :p
Akhir2 ini keknya perasaan gue tegang mulu, entah karena kerjaan kantor high pressure akhir2 ini, atau karena bad relationship dengan seseorang, atau entah karena apa. Bisa jadi karena lagi diet ketat yang konon kata orang bisa menyebabkan depresi atau mood yang ga terkontrol.
Tapi ini salah satu hal yang menggembirakan gue dalam 2 bulan ini. I've lost 7 kgs at three months from february 2007. :D
More ways to go... ^-^
I think so... -_-
I hope so... :(
Beberapa teman bilang ini terlalu drastis, tapi menurut gue, ga terlalu ekstrem kok dietnya. Since Feb, gue merubah pola makan dengan yang lebih sehat. No junk food, no snack, no krupuk (hiks...), and a lot of no no no lainnya.
Nasi katringan di kantor awal2nya gue minta office girl sisihin setengah, terserah dia mau kasih siapa. Lama2, sekarang gue tinggal makan 1/4 nya. Makan malam dikurangi, perbanyak makan buah2an. Meski sampe sekarang godaan apalagi kalo weekend itu bener2 bikin mental goyah, hehehe....
Tapi gue puas ama hasilnya... Hanya saja, seperti biasa, gue selalu curiga dengan keadaan yang berjalan baik-baik saja, seolah ketenangan yang ada akan disusul dengan badai tornado yang menghancurkan.
Oke, berlebihan memang, maksud gue, ada rasa takut jika suatu saat gue jenuh berpola makan sehat ini, dan semua usaha gue sia-sia. Karena terus terang aja, yang sehat itu nggak enak, yang enak itu ga sehat (duh, iklan banget yah...
Balik lagi ke topik awal, mungkin juga ketegangan gue berasal dari seringnya nonton CSI akhir2 ini. Yeeppp... Crime Scene Investigation. Gue tau serial ini udah lama, dikasih tau sama temen. Tapi waktu itu dengernya aja malas. Sejak nonton pertama kali serialnya di TV kabel (karena ga bisa bekerja dalam keadaan hening dan gue bosen muter koleksi cd yang seuprit, jadi terpaksa nonton secara siaran yang lain lagi jelek atau udah pernah nonton) gue nonton serial ini padahal ga tau judulnya, dan gue suka. Pas liat judulnya, alamaaakk... CSI, season 7 pula. Jadilah daku berburu DVDnya. Dari season 1 sampe 6. Sekarang gue udah dapat 5 season dari 6 season yang gue cari.
Ga puas sampe situ, gue berburu versi Miami dan New York nya. Yaaahhh... saya sudah menjadi addicttive, padahal secara mental adalah penakut banget, tetep aja sok nonton filem itu, hehehee....
Kehidupan kantor juga bergejolak, mulai dari berusaha semaksimalnya memuaskan keinginan bos yang nggak ada habis2nya, sampe capek ati mengadapi staff yang "au-ban" banget sehingga (maaf, saya memang kejam), gue terpaksa mengusulkan kepada direksi untuk mem -phk kan staff ini atau gue yang akan resign (ancaman yang nggak perlu sebenarnya, mengingat permintaan gue itu masih masuk akal karena didukung alasan2 yang kuat. Beside... duh, milih berhentiin prajurit atau komandannya? hayooo?)
Lalu awal bulan Mei ini gue baru ikutan kursus di salah satu lembaga yang gurunya native semua. Deeeeehhhhh, nilai positifnya adalah: mata jadi segar, karena banyak pemandangan bagus alias bule2 keren (meski yang udah expired juga ada sih, hihihi...). Cuma, memang tak ada gading yang tak retak, gue salah milih jadwal. Ngambilnya stengah5 sore. Ceritanya karena jam pulang kantor gue lebih cepet dr yang laen alias jam 4, gue pikir mending ambil stengah 5.
Ohya, daku cuma dapat grade Intermediate 2 waktu ujian penempatannya. Kata yang nguji sebenarnya gue ini ada di perbatasan antara inter2 dan inter3. Hiks, kasian banget Inggrisku yah.
Nah, karena kelas inter3 ga jelas kapan mau mulai, sementara semangat gue untuk nge-les sedang menggebu-gebu, meski ditawarin inter3 dan disuruh nunggu, gue keukeh ngambil inter 2.
Begitu hari pertama, alamaaakkk, keknya gue yang paling tuwir deh dikelas ini. Yang paling deket umurnya dengan gue tetep aja lebih muda setahun dari gue, hikk...hikkkss.... Yang paling muda? Huaaaaa... ada yang 14 tahun, bo. Masih smp.
Lalu gue langsung bersumpah dalam hati, kalo naik level, gue akan pilih jam 7 malam. Habisnya, ni anak-anak biarpun masih culun2, tp inggrisnya jago2. Kan gue jadi tengsin sendiri, hehehee...
Pernah ngintip kelas inter1 yang jam 7 malam, semua isinya seangkatan gue, pada pake kemeja kerja dan yaaaahhhhh ga lebih mudalah dari gue, hehehe...
Jadi gue kan ga nyolok sendirian, hiks.
Generally, suasana kursusnya menyenangkan. Apalagi guru2nya ada yang keren. Yah, anggap aja refreshing dari pulang kerja, bisa ngobrol2 sambil maen games yang seru2 dengan bule keren, pura2 pasang tampang bego biar dideketin dan diajarin privat. Huahahahaha, beneran gue merasa kayak devil waktu menjalankan siasat ini, hehehehee... Abisnya anak2 laen pada polos2 deh mukanya, hehehehe....
Another story of my life, Ai Je is becoming a part of my life now. Well, love life is complicate. Don't ask me how i feel, and how it could be happen, the only thing i know is I'm very grateful to have him in my life.
Perjalanan hidup ini berliku dan kita nggak pernah tau akan mengalir dan bermuara kemana. Meski bukan penganut "Let it flow", tapi gue bukan tipe orang yang suka menentang takdir. So, Let It Be mungkin lebih tepat. Kalo semua ini akan ga berhasil juga Ai Je, mungkin memang saatnya gue untuk menyerah.
But, kejadian ini mungkin sebagai bukti ,"Never give up in faith!"
Sekarang tinggal liat sajalah, sampe mana kita sanggup menjalaninya kan? Kalo memang akan berakhir seperti dulu lagi, paling nggak, gue nggak akan menyesal ketika membaca kenangan ini, I've try my best.
I can, I'm sure all of us can do that. Keep the faith! (Astagaaaa...! Bon Jovi abissshhh..!!! Hehehe...)
Monday, May 21, 2007
Bukan keluh kesah, tapi bahagia!
Kata orang cinta itu ajaib.
Kuasanya melebihi serangan tornado dengan dua pusaran.
Aku percaya!
Karena cinta aku menjadi gila,
Meraung dalam marahku.
Karena cinta aku mati,
Lalu lemas tak berdaya.
Terkubur, dan terlupakan.
Menjalani hari seperti zombie.
Melakoni panggung kehidupan yang suram,
berkubang duka dan terkubur
Tak lagi menanti.
Dan ketika jiwa tak mampu berkompromi
Ketika mati rasa itu tak mampu meng-imuni deritaku
Kau datang, mengulurkan tangan
Menyentuh setiap kelam menjadi cerah.
Kau yang datang menawarkan cahaya,
setelah habis nafasku meminta dan tak kunjung terang datang.
Kau yang meniupkan nafas ke jantung yang tak lagi berdetak.
Aku ini cuma Lazarus.
Cuma seonggok mayat yang mengharapkan segenggam biji lada.
Jika ini cuma mimpi dari tidur panjangku,
maka siapapun jangan bangunkan aku.
Jika ini nyata, semoga kekal abadi selamanya.
Berjalan disisimu, adalah bahagiaku.
***
p.s:
untuk Ai Je,
Apapun alasanmu berada disisiku, terimakasih...
sesak ini karena bahagia, sungguh!
Kuasanya melebihi serangan tornado dengan dua pusaran.
Aku percaya!
Karena cinta aku menjadi gila,
Meraung dalam marahku.
Karena cinta aku mati,
Lalu lemas tak berdaya.
Terkubur, dan terlupakan.
Menjalani hari seperti zombie.
Melakoni panggung kehidupan yang suram,
berkubang duka dan terkubur
Tak lagi menanti.
Dan ketika jiwa tak mampu berkompromi
Ketika mati rasa itu tak mampu meng-imuni deritaku
Kau datang, mengulurkan tangan
Menyentuh setiap kelam menjadi cerah.
Kau yang datang menawarkan cahaya,
setelah habis nafasku meminta dan tak kunjung terang datang.
Kau yang meniupkan nafas ke jantung yang tak lagi berdetak.
Aku ini cuma Lazarus.
Cuma seonggok mayat yang mengharapkan segenggam biji lada.
Jika ini cuma mimpi dari tidur panjangku,
maka siapapun jangan bangunkan aku.
Jika ini nyata, semoga kekal abadi selamanya.
Berjalan disisimu, adalah bahagiaku.
***
p.s:
untuk Ai Je,
Apapun alasanmu berada disisiku, terimakasih...
sesak ini karena bahagia, sungguh!
Tuesday, April 03, 2007
M E N C I N T A
Baru baca postingan seseorang soal cinta dan mencinta. Dan secara tiba-tiba semangat menulis blog muncul lagi, hehehee....
Maap buat temen2 yang mampir2 ke sini tapi ga ada tulisan2 baru. Yang punya blog lagi mumet soalnya. Liat aja beberapa tulisan terakhir yang isinya ngeluuuuuuuuuuuuuhhhhhh mulu. Jadi agak2 ngerem tangan untuk menulis, daripada isinya cuma ngata2in orang aja, huehehehe....
Di blog yang gue baca itu, yang nulis nanyain soal apakah mencintai = memiliki? kenapa kita selalu menganggap yang kita cintai itu adalah kepunyaan kita? dan ada banyak pertanyaan2 lain yang mungkin sering muncul dibenak kita, ga peduli cowok or cewek.
Kemaren siang, ditengah hari bolong saat gue sedang menikmati awal2 bulan setelah berperang dengan angka2 yang merupakan rutinitas setiap tutup bulan, gue berchating-chating ria dengan beberapa teman di YM. Mulai dari menyapa teman lama, sampe obrolan ga penting banget yang sebenarnya gue sendiri ragu ada manfaatnya atau ga ^_^
Entah darimana mulainya, gue dan temen itu ngebahas soal relation ship. Antara pria dan wanita, tentu saja. Or, mungkin antara pria dan pria (dalam tanda kutip) atau wanita dan wanita (dalam tanda kutip juga), ;p.
Lalu gue mulai bercerita, tentang perjalanan pribadi gue dulu sekali...
Long time a go, disalah satu episode hidup gue entah chapter berapa, gue pernah merasa sediiiiiiiihhhhhhhh banget. Ketika merasa kehilangan jati diri saat mencintai seseorang. Ketika akhirnya semua berakhir saat seseorang yang kita sayang bilang ...
...
...
...
Sorry, nggak dapat nerusin tulisannya. I've opened my YM archived untuk mencari dengan pasti dulu itu dia bilang apa, dan semuanya masih disitu.
Tersimpan dengan rapi seperti tonggak sejarah.
Terbaca...
Membuka luka lama...
Dan ternyata masih sakit...
Dan nyawa gue untuk nge-blog terbang entah kemana.
Maap yah, teman-teman. Suatu saat postingan ini akan disambung lagi, kalo sudah tidak merindu lagi.
catatan untukmu: entah kalo saat-saat itu menyakitkan, entah siapa yang jadi korban antara aku dan kamu, tapi entah mengapa, i still miss you somehow... (12 Juli 2005 - 17 Maret 2006). you know who you are...
Maap buat temen2 yang mampir2 ke sini tapi ga ada tulisan2 baru. Yang punya blog lagi mumet soalnya. Liat aja beberapa tulisan terakhir yang isinya ngeluuuuuuuuuuuuuhhhhhh mulu. Jadi agak2 ngerem tangan untuk menulis, daripada isinya cuma ngata2in orang aja, huehehehe....
Di blog yang gue baca itu, yang nulis nanyain soal apakah mencintai = memiliki? kenapa kita selalu menganggap yang kita cintai itu adalah kepunyaan kita? dan ada banyak pertanyaan2 lain yang mungkin sering muncul dibenak kita, ga peduli cowok or cewek.
Kemaren siang, ditengah hari bolong saat gue sedang menikmati awal2 bulan setelah berperang dengan angka2 yang merupakan rutinitas setiap tutup bulan, gue berchating-chating ria dengan beberapa teman di YM. Mulai dari menyapa teman lama, sampe obrolan ga penting banget yang sebenarnya gue sendiri ragu ada manfaatnya atau ga ^_^
Entah darimana mulainya, gue dan temen itu ngebahas soal relation ship. Antara pria dan wanita, tentu saja. Or, mungkin antara pria dan pria (dalam tanda kutip) atau wanita dan wanita (dalam tanda kutip juga), ;p.
Lalu gue mulai bercerita, tentang perjalanan pribadi gue dulu sekali...
Long time a go, disalah satu episode hidup gue entah chapter berapa, gue pernah merasa sediiiiiiiihhhhhhhh banget. Ketika merasa kehilangan jati diri saat mencintai seseorang. Ketika akhirnya semua berakhir saat seseorang yang kita sayang bilang ...
...
...
...
Sorry, nggak dapat nerusin tulisannya. I've opened my YM archived untuk mencari dengan pasti dulu itu dia bilang apa, dan semuanya masih disitu.
Tersimpan dengan rapi seperti tonggak sejarah.
Terbaca...
Membuka luka lama...
Dan ternyata masih sakit...
Dan nyawa gue untuk nge-blog terbang entah kemana.
Maap yah, teman-teman. Suatu saat postingan ini akan disambung lagi, kalo sudah tidak merindu lagi.
catatan untukmu: entah kalo saat-saat itu menyakitkan, entah siapa yang jadi korban antara aku dan kamu, tapi entah mengapa, i still miss you somehow... (12 Juli 2005 - 17 Maret 2006). you know who you are...
Tuesday, March 20, 2007
Best friend ever?
Gue lupa kapan semua ini mulai.
Mungkin sekitar 1 or 2 bulan lalu.
Dan semua ini membuat gue jadi tertegun untuk sebentar mereview, apa arti persahabatan buat gue.
I thought we were friend. Best friend malah. Tapi sejak nggak ada balasan akan sms dan telpon gue, masih layak nggak sih kata2 diatas.
I knew her since i was at the 2nd year in college. At that time, kami sama2 anak baru di kos2an deket kampus. Kampus gue dan dia bersebelahan. Bersama 2 anak baru laennya, kita ber4 cukup deket satu sama lain.
Time's fly....
Satu persatu meninggalkan kos2an. Lost contact each other, entah kenapa gue dan dia malah menjadi lebih deket dari kemaren2.
Hang out bareng, pergi ber4 bareng 2 orang temen cowok laen. Sometimes cuma duduk2 berdua di cafe untuk saling curhat2an.
Untungnya selera kita akan cowok sangat bertolak belakang. Jadi, nggak pernah rebutan cowok yang sama (haiyaaaahhhh, kalo sama pun, emang worth it geto, rebutan cowok? Hehehe…)
Banyak hal yang sudah gue lalui dengan dia. Dan pernah juga berpikir, mungkin dia salah satu best friend dalam hidup seorang Belle. Marahan, sering. Jutek2an, sering. Adu argument? Lebih sering lagi.
But, ada yang ga bener akhir2 ini.
Dia orangnya keras. Kalo kata buku personality sih orangnya koleris koleris (perhatikan kombinasi karakternya :p). Sementara gue adalah orang yang koleris sanguin (or sanguin koleris?). Banyak orang yang nanya kenapa kita cocok banget. Padahal sering berantem juga. But, I thought it was oke.
Until last month…
Apa sih artinya seorang sahabat? Apa bedanya sahabat dan temen? Kalo emang beda, mana yang lebih baik, punya temen yang banyak apa punya satu orang sahabat saja?
Beruntungnya gue, ada begitu banyak orang2 yang gue kategorikan sahabat dalam hidup. Sejak kecil, meski punya banyak temen, ada segelintir orang yang gue sebut sahabat. Dan seiring berlalunya waktu, sahabat2 terus bertambah, bukan tergantikan. Meski kehilangan kontak, atau lama nggak berhubungan dikarenakan jarak dan waktu, mereka tetap istimewa dihati. Karena gue tau, kalo gue menyediakan sedikit waktu menghubungi mereka, mereka akan tetap ada disitu, seperti gue yang selalu berusaha ada ketika mereka menghubungi gue.
Pandangan dan prinsip hidup kita berbeda. Gue besar dengan didikan kerja keras dari keluarga. Ntah karbitan apa nggak, ntah dipaksakan atau nggak, kemandirian adalah kata2 yang sering berlalu lalang di kepala gue. Pemalas? Aduhhh… itu gue banget. Tapi bokap nyokap adalah orang yang sama keras kepalanya dengan gue. Nggak pernah bosen jejalin gue dengan prinsip dan semangat hidup yang mereka miliki. Dan gue bener2 bersyukur akan itu. Kalo nggak diajarkan dengan cara seperti itu, mungkin gue cuma akan jadi anak manja yang berlindung dibalik ketiak orang tua, bergantung sepenuhnya kepada orang lain seumur hidup (dalam kasus ini dari orang tua ke suami; keuntungan hidup sebagai seorang wanita :p), dan akan selalu dan selalu menyalahkan orang lain akan hal2 yang salah dalam hidup gue.
Dia?Ga tau lah, yang bisa gue liat dengan jelas adalah terlalu cepat menyerah, nggak cukup fight, dan selalu berpikir bahwa dunia berputar mengelilingi dia.
Tapi apalah gue ini? Seorang sahabat? Berhak merubah prinsip hidup seseorang? Jelas nggak lah. Esensi persahabatan adalah menerima apa adanya. Almost 5 years, dan gue fine2 aja dengan sikap dia. Ketika gue ga melihat satupun sisa2 temen kuliah dia yang masih deket hingga saat ini, atau temen kos yang sudah berapa kali pindah, atau temen dari smu dulu. Nggak ada satupun. And I still there. Menyisihkan sedikit waktu yang gue punya, yang seharusnya gue bagi juga dengan temen2 yang lain, sahabat2 yang lain, tapi ga pernah cukup. Gue ga mikirin itu semua.
Juga ketika dia bilang nggak pernah punya rasa sama cowoknya (sekarang sudah mantan), hell yeah, kenapa bisa bertahan 3,5 tahun?
Apa karena sudah menemukan orang baru? Silahkan… Ini hidup elo, elo berhak menentukan siapa yang datang dan pergi. Gue cuma bisa kasih pandangan, dan ketika balik disudutkan, yah gue diam aja.
Ketika segala sesuatu tentang cowok gue dicela, meski gondok, gue diamkan saja. Yeah, selera elo emang paling top. Dan gue memilih untuk tidak berkonfrontasi. Apa untungnya?
Ketika semua temennya yang lain sibuk dengan kegiatan sendiri2 semenjak lulus kuliah, kerja dari pagi hingga malam, maybe no time no money untuk hura2, gue menyediakan waktu (secara jabatan gue dikantor lebih flexible soal beginian) untuk sekedar hang out, nonton atau window shopping dengan dia.
Tetap aja nggak cukup.
And I have my own life. I have my own dream.
Mungkin karena sejak November lalu, kegiatan sore hari gue disibukkan dengan aktifitas lain yang menyita waktu. Bahkan untuk urusan love life, bener2 dipas-pasin waktunya.
So, since that time, sering banget gue denger kata2 ini, mulai dari
“Ayolah, gue pengen banget nonton film ini, masa loe tega gue nonton sendirian?”,
“Elo pergi sama cowok elo minggu depannya aja, minggu ini pergi ama gue aja! Gue butuh baju baru nih, untuk datang ke acara ini”,
hingga kalimat seperti ini,
“Elo ga asik!”.
Apa yang bisa gue lakukan? Menelan ludah dan (jujur!) feeling guilty. Sometimes, kalo udah capek banget, malam2 hari, gue sering mikir, worth it ga sih yang sedang gue lakukan? Kerja dari pagi sampe sore dikantor, nggak puas2nya, lalu kerja lagi dari jam pulang kantor sampe larut malam. Entah itu dilakukan diluar rumah, atau dirumah. Apa nggak lebih baik milih salah satu? Secara bisnis sendiri masih belajar merangkak, berarti gue kerja kantoran saja? Lalu isi hidup dengan leyeh-leyeh, santai-santai, foya-foya? Hidup cuma sekali kan?
Tapi nggak, gue kan bukan dia? Yang dengan gampangnya keluar dari kerjaan yang baru 2 bulan ditekuninya cuma karena malas bangun pagi. Lalu masuk lagi ke perusahaan itu setelah ditawari kompensasi yang cukup menggiurkan. Lalu keluar lagi 3 bulan berikutnya karena jenuh. Pakai sepatu atasan elo itu, gimana rasanya diperlakukan seperti itu, nyari orang baru bukan hal yang mudah tau.
Gue bukan orang yang dengan gampangnya menghabiskan uang orangtua untuk ngambil kuliah tingkat master, cuma karena gue ga mau disebut pengangguran karena ga bekerja setelah tingkat sarjana gue selesai.
Duh, sebenarnya bukan mau ngejelek2in orang sih, cuma kadang gue sebel sama prinsip hidup yang seperti itu. Apa daya, kalo gue coba ngasih pendapat, yang ada malah disinisin. So, what can I say?
Selama ini mungkin bener, waktu gue untuk bersosialisasi agak kurang. Semakin sibuk, maka semakin memilah2 kegiatan bernilai tambah mana yang bisa diikuti, yang mana yang masih bisa diundur. Hei… ini ga selamanya kan?
Nah, singkat cerita, suatu hari beberapa minggu yang lalu, gue pernah minta tolong orang yang gue panggil sahabat ini (kita panggil saja A) untuk ngambil sepasang mur baut no 10 di kantor tempatnya bekerja, secara motor gue emang gue beli disana.
Gue suruh dia nyolong? Eittsss, enak aja. Ceritanya gini, gue kenal juga seorang temen kerjanya (sebut saja si B) yang sekarang udah ga kerja disitu lagi. Kebetulan ketemu pas mur baut nomor plat motor gue copot, langsung aja gue tanyain nama barangnya apa dan biasanya bisa beli dimana (secara gue buta sama sekali soal sparepart dan sejenisnya).
Si B bilang ngapain beli, minta aja ke showroom ex kantor dia, biasanya dikasihin gratis.
Nah, wajar dong, gue langsung sms si A, untuk ambil mur baut ini sepasang. Setelah perdebatan sengit bahwa susah ngambilnya, ga tau tempatnya, ntar si bos marah, akhirnya (pada detik gue mau menyerah dan mau bilang bahwa gue beli aja ditempat lain) dioke-in sama si A.
Sorenya, si A khusus telpon gue untuk menceritakan susahnya pengalamannya mengambil mur baut itu. Bagaimana hamper ketahuan sama bosnya (huaaahhh, gue kan ga suruh nyolong. Mana gue tau kalo si bossnya ga ngijinin ngasih mur baut itu), lalu bagaimana kerjaannya terbengkalai karena harus memikirkan siasat mengambil mur baut itu, and so on, and so on. Menghela nafas, gue mikir, lebih baik tadi gue beli aja ditempat lain. Seribu dua ribu perak kali tuh barang.
Score: 1-0 for her
Nah, itu kejadian pertama. Kira2 seminggu setelah itu, gue sms A. Untuk minta dia nemenin gue dirumah secara adek gue dan sepupu2 yang laennya pada nginap plus ada yang lagi pulang kampung karena kuliahan pada libur. Well, gue dan A sering saling nginap2an satu sama lain, so it was not a very2 extraordinary thing actually. Dia bales nggak bisa, coz udah terlanjur bikin acara dengan temen laennya. So, ya udah, what can I say? Nyari temen laen aja buat diajakin nginap.
Tiba2 sms dia datang, n said like this, “Ter, ya udah deh, gini aja, loe temenin gue nonton di CL, trus kita hangout di Oh la la. Gue batalin janji gue malam ini deh.”
See? Kalo elo dibilangin gitu, persepsinya apa? Si A bersedia ngebatalin janji dan nemenin elo kan? Selama elo mau nemenin dia nonton dan hangout.
Sejujurnya, film yang lagi mo dinonton itu bukan selera gue, dan seperti yang gue bilang tadi, kerjaan dirumah itu numpuk. Tapiiiii… disinilah payahnya gue, karena gue ga mau tinggal sendiri dirumah malam itu, dan gue yakin kalo ga gue iyain, maka ga mungkin banget dia mau nginap.So gue iyain. Jadilah kita pergi sore itu sepulang kerja.
And guess what? Ketika malamnya mau pulang, dengan enaknya dia bilang bahwa dia mau pulang ke rumahnya. Terang aja gue melotot? Jadi elo mau bilang, gue wasting time ga ada hasil neh nemenin elo kesana kemari?
Tau ga dia bilang apa? “Ih, gue kan ga bilang mau nemenin elo nginap? Gue kan cuma ngajak nonton dan makan doang? Liat deh isi sms gue.”
Sh*t, dia benar. Ga ada isi sms dia yang menyatakan mau nginap di rumah gue. Sejenak gue merasa kayak orang bego diparkiran saat itu. Tapi akhirnya dengan ketus gue bilang aja bahwa isi sms dia menyiratkan begitu. Dan kalo dia nggak mau, seharusnya bilang dari tadi, biar gue bisa nyari temen lain. Kalo udah malam kek gitu, siapa juga yang bisa diajakin nginap?
Akhirnya setelah perdebatan panjang, akhirnya dia nyerah, nemenin gue dirumah.
Score: 2-0 for her
Beberapa hari kemudian, dia telpon gue untuk minta tolong nganterin dia ke kampus pasca sarjananya dia. Padahal ketika awal2 ngobrol di telpon, dia udah nanya duluan, sore ntar ada acara ga dan udah gue jelasin bahwa gue udah janjian sama orang untuk suatu kepentingan, tetep aja dia nggak mau terima gue ga bisa nemenin dia. Bahwa harusnya gue batalin janji (yang sudah gue schedul-in dari minggu lalu), atau biar aja orangnya nunggu sejam sampai gue selesai nganterin dia, dan berbagai alasan lain yang menurut gue ga logis. Beside, dia kan bisa naek taksi? Ini bukan kondisi dimana dia bener2 membutuhkan gue banget, masih ada solusi lain kan?
Tapi dia ga mau tau.
Dan menutup telpon dengan kata2 ini: "Ohh... jadi gitu yah? Kalo elo yang minta tolong, selalu gue bantuin. Sekarang gue minta tolong, elo ga mau bantu. Ya udah, laen kali kalo elo minta tolong lagi, gue bilang ga bisa!" Brakkk... gagang telpon dibanting.
Whatt...?????? @#$%^&*&^%$....!!!
Mari kita klarifikasi:
Apa yang dia harapkan? Gue telpon elo? Minta maap?
Bukannya gue gengsi, tapi so far, gue rasa perlu juga kondisi seperti ini. Ketika persahabatan dihitung dengan untung rugi, gue rasa masing-masing dari kita perlu instropeksi diri deh. Soalnya kalo diliat untung rugi, berasa gue untung dimana selama ini selain ditempa supaya memiliki tenggang rasa dan toleransi yang amat tinggi akan semua kesinisan elo sama lingkungan dan sekeliling elo?
Dewasalah, teman. Nggak selamanya kita bisa bergantung sama orang lain. Ada kalanya, jalan sempit itu harus kita lalui sendiri. Tapi selama kita tau kita masih punya sahabat2 yang siap mendampingi, menerangi dan memberi petunjuk pada kita, hati kita akan selalu tenang.
Dan gue benar2 bersyukur pada Tuhan, memiliki begitu banyak sahabat dalam hidup, yang nggak pernah mikir untung rugi meski kadang gue ga punya banyak waktu untuk mereka.
Mungkin sekitar 1 or 2 bulan lalu.
Dan semua ini membuat gue jadi tertegun untuk sebentar mereview, apa arti persahabatan buat gue.
I thought we were friend. Best friend malah. Tapi sejak nggak ada balasan akan sms dan telpon gue, masih layak nggak sih kata2 diatas.
I knew her since i was at the 2nd year in college. At that time, kami sama2 anak baru di kos2an deket kampus. Kampus gue dan dia bersebelahan. Bersama 2 anak baru laennya, kita ber4 cukup deket satu sama lain.
Time's fly....
Satu persatu meninggalkan kos2an. Lost contact each other, entah kenapa gue dan dia malah menjadi lebih deket dari kemaren2.
Hang out bareng, pergi ber4 bareng 2 orang temen cowok laen. Sometimes cuma duduk2 berdua di cafe untuk saling curhat2an.
Untungnya selera kita akan cowok sangat bertolak belakang. Jadi, nggak pernah rebutan cowok yang sama (haiyaaaahhhh, kalo sama pun, emang worth it geto, rebutan cowok? Hehehe…)
Banyak hal yang sudah gue lalui dengan dia. Dan pernah juga berpikir, mungkin dia salah satu best friend dalam hidup seorang Belle. Marahan, sering. Jutek2an, sering. Adu argument? Lebih sering lagi.
But, ada yang ga bener akhir2 ini.
Dia orangnya keras. Kalo kata buku personality sih orangnya koleris koleris (perhatikan kombinasi karakternya :p). Sementara gue adalah orang yang koleris sanguin (or sanguin koleris?). Banyak orang yang nanya kenapa kita cocok banget. Padahal sering berantem juga. But, I thought it was oke.
Until last month…
Apa sih artinya seorang sahabat? Apa bedanya sahabat dan temen? Kalo emang beda, mana yang lebih baik, punya temen yang banyak apa punya satu orang sahabat saja?
Beruntungnya gue, ada begitu banyak orang2 yang gue kategorikan sahabat dalam hidup. Sejak kecil, meski punya banyak temen, ada segelintir orang yang gue sebut sahabat. Dan seiring berlalunya waktu, sahabat2 terus bertambah, bukan tergantikan. Meski kehilangan kontak, atau lama nggak berhubungan dikarenakan jarak dan waktu, mereka tetap istimewa dihati. Karena gue tau, kalo gue menyediakan sedikit waktu menghubungi mereka, mereka akan tetap ada disitu, seperti gue yang selalu berusaha ada ketika mereka menghubungi gue.
Pandangan dan prinsip hidup kita berbeda. Gue besar dengan didikan kerja keras dari keluarga. Ntah karbitan apa nggak, ntah dipaksakan atau nggak, kemandirian adalah kata2 yang sering berlalu lalang di kepala gue. Pemalas? Aduhhh… itu gue banget. Tapi bokap nyokap adalah orang yang sama keras kepalanya dengan gue. Nggak pernah bosen jejalin gue dengan prinsip dan semangat hidup yang mereka miliki. Dan gue bener2 bersyukur akan itu. Kalo nggak diajarkan dengan cara seperti itu, mungkin gue cuma akan jadi anak manja yang berlindung dibalik ketiak orang tua, bergantung sepenuhnya kepada orang lain seumur hidup (dalam kasus ini dari orang tua ke suami; keuntungan hidup sebagai seorang wanita :p), dan akan selalu dan selalu menyalahkan orang lain akan hal2 yang salah dalam hidup gue.
Dia?Ga tau lah, yang bisa gue liat dengan jelas adalah terlalu cepat menyerah, nggak cukup fight, dan selalu berpikir bahwa dunia berputar mengelilingi dia.
Tapi apalah gue ini? Seorang sahabat? Berhak merubah prinsip hidup seseorang? Jelas nggak lah. Esensi persahabatan adalah menerima apa adanya. Almost 5 years, dan gue fine2 aja dengan sikap dia. Ketika gue ga melihat satupun sisa2 temen kuliah dia yang masih deket hingga saat ini, atau temen kos yang sudah berapa kali pindah, atau temen dari smu dulu. Nggak ada satupun. And I still there. Menyisihkan sedikit waktu yang gue punya, yang seharusnya gue bagi juga dengan temen2 yang lain, sahabat2 yang lain, tapi ga pernah cukup. Gue ga mikirin itu semua.
Juga ketika dia bilang nggak pernah punya rasa sama cowoknya (sekarang sudah mantan), hell yeah, kenapa bisa bertahan 3,5 tahun?
Apa karena sudah menemukan orang baru? Silahkan… Ini hidup elo, elo berhak menentukan siapa yang datang dan pergi. Gue cuma bisa kasih pandangan, dan ketika balik disudutkan, yah gue diam aja.
Ketika segala sesuatu tentang cowok gue dicela, meski gondok, gue diamkan saja. Yeah, selera elo emang paling top. Dan gue memilih untuk tidak berkonfrontasi. Apa untungnya?
Ketika semua temennya yang lain sibuk dengan kegiatan sendiri2 semenjak lulus kuliah, kerja dari pagi hingga malam, maybe no time no money untuk hura2, gue menyediakan waktu (secara jabatan gue dikantor lebih flexible soal beginian) untuk sekedar hang out, nonton atau window shopping dengan dia.
Tetap aja nggak cukup.
And I have my own life. I have my own dream.
Mungkin karena sejak November lalu, kegiatan sore hari gue disibukkan dengan aktifitas lain yang menyita waktu. Bahkan untuk urusan love life, bener2 dipas-pasin waktunya.
So, since that time, sering banget gue denger kata2 ini, mulai dari
“Ayolah, gue pengen banget nonton film ini, masa loe tega gue nonton sendirian?”,
“Elo pergi sama cowok elo minggu depannya aja, minggu ini pergi ama gue aja! Gue butuh baju baru nih, untuk datang ke acara ini”,
hingga kalimat seperti ini,
“Elo ga asik!”.
Apa yang bisa gue lakukan? Menelan ludah dan (jujur!) feeling guilty. Sometimes, kalo udah capek banget, malam2 hari, gue sering mikir, worth it ga sih yang sedang gue lakukan? Kerja dari pagi sampe sore dikantor, nggak puas2nya, lalu kerja lagi dari jam pulang kantor sampe larut malam. Entah itu dilakukan diluar rumah, atau dirumah. Apa nggak lebih baik milih salah satu? Secara bisnis sendiri masih belajar merangkak, berarti gue kerja kantoran saja? Lalu isi hidup dengan leyeh-leyeh, santai-santai, foya-foya? Hidup cuma sekali kan?
Tapi nggak, gue kan bukan dia? Yang dengan gampangnya keluar dari kerjaan yang baru 2 bulan ditekuninya cuma karena malas bangun pagi. Lalu masuk lagi ke perusahaan itu setelah ditawari kompensasi yang cukup menggiurkan. Lalu keluar lagi 3 bulan berikutnya karena jenuh. Pakai sepatu atasan elo itu, gimana rasanya diperlakukan seperti itu, nyari orang baru bukan hal yang mudah tau.
Gue bukan orang yang dengan gampangnya menghabiskan uang orangtua untuk ngambil kuliah tingkat master, cuma karena gue ga mau disebut pengangguran karena ga bekerja setelah tingkat sarjana gue selesai.
Duh, sebenarnya bukan mau ngejelek2in orang sih, cuma kadang gue sebel sama prinsip hidup yang seperti itu. Apa daya, kalo gue coba ngasih pendapat, yang ada malah disinisin. So, what can I say?
Selama ini mungkin bener, waktu gue untuk bersosialisasi agak kurang. Semakin sibuk, maka semakin memilah2 kegiatan bernilai tambah mana yang bisa diikuti, yang mana yang masih bisa diundur. Hei… ini ga selamanya kan?
Nah, singkat cerita, suatu hari beberapa minggu yang lalu, gue pernah minta tolong orang yang gue panggil sahabat ini (kita panggil saja A) untuk ngambil sepasang mur baut no 10 di kantor tempatnya bekerja, secara motor gue emang gue beli disana.
Gue suruh dia nyolong? Eittsss, enak aja. Ceritanya gini, gue kenal juga seorang temen kerjanya (sebut saja si B) yang sekarang udah ga kerja disitu lagi. Kebetulan ketemu pas mur baut nomor plat motor gue copot, langsung aja gue tanyain nama barangnya apa dan biasanya bisa beli dimana (secara gue buta sama sekali soal sparepart dan sejenisnya).
Si B bilang ngapain beli, minta aja ke showroom ex kantor dia, biasanya dikasihin gratis.
Nah, wajar dong, gue langsung sms si A, untuk ambil mur baut ini sepasang. Setelah perdebatan sengit bahwa susah ngambilnya, ga tau tempatnya, ntar si bos marah, akhirnya (pada detik gue mau menyerah dan mau bilang bahwa gue beli aja ditempat lain) dioke-in sama si A.
Sorenya, si A khusus telpon gue untuk menceritakan susahnya pengalamannya mengambil mur baut itu. Bagaimana hamper ketahuan sama bosnya (huaaahhh, gue kan ga suruh nyolong. Mana gue tau kalo si bossnya ga ngijinin ngasih mur baut itu), lalu bagaimana kerjaannya terbengkalai karena harus memikirkan siasat mengambil mur baut itu, and so on, and so on. Menghela nafas, gue mikir, lebih baik tadi gue beli aja ditempat lain. Seribu dua ribu perak kali tuh barang.
Score: 1-0 for her
Nah, itu kejadian pertama. Kira2 seminggu setelah itu, gue sms A. Untuk minta dia nemenin gue dirumah secara adek gue dan sepupu2 yang laennya pada nginap plus ada yang lagi pulang kampung karena kuliahan pada libur. Well, gue dan A sering saling nginap2an satu sama lain, so it was not a very2 extraordinary thing actually. Dia bales nggak bisa, coz udah terlanjur bikin acara dengan temen laennya. So, ya udah, what can I say? Nyari temen laen aja buat diajakin nginap.
Tiba2 sms dia datang, n said like this, “Ter, ya udah deh, gini aja, loe temenin gue nonton di CL, trus kita hangout di Oh la la. Gue batalin janji gue malam ini deh.”
See? Kalo elo dibilangin gitu, persepsinya apa? Si A bersedia ngebatalin janji dan nemenin elo kan? Selama elo mau nemenin dia nonton dan hangout.
Sejujurnya, film yang lagi mo dinonton itu bukan selera gue, dan seperti yang gue bilang tadi, kerjaan dirumah itu numpuk. Tapiiiii… disinilah payahnya gue, karena gue ga mau tinggal sendiri dirumah malam itu, dan gue yakin kalo ga gue iyain, maka ga mungkin banget dia mau nginap.So gue iyain. Jadilah kita pergi sore itu sepulang kerja.
And guess what? Ketika malamnya mau pulang, dengan enaknya dia bilang bahwa dia mau pulang ke rumahnya. Terang aja gue melotot? Jadi elo mau bilang, gue wasting time ga ada hasil neh nemenin elo kesana kemari?
Tau ga dia bilang apa? “Ih, gue kan ga bilang mau nemenin elo nginap? Gue kan cuma ngajak nonton dan makan doang? Liat deh isi sms gue.”
Sh*t, dia benar. Ga ada isi sms dia yang menyatakan mau nginap di rumah gue. Sejenak gue merasa kayak orang bego diparkiran saat itu. Tapi akhirnya dengan ketus gue bilang aja bahwa isi sms dia menyiratkan begitu. Dan kalo dia nggak mau, seharusnya bilang dari tadi, biar gue bisa nyari temen lain. Kalo udah malam kek gitu, siapa juga yang bisa diajakin nginap?
Akhirnya setelah perdebatan panjang, akhirnya dia nyerah, nemenin gue dirumah.
Score: 2-0 for her
Beberapa hari kemudian, dia telpon gue untuk minta tolong nganterin dia ke kampus pasca sarjananya dia. Padahal ketika awal2 ngobrol di telpon, dia udah nanya duluan, sore ntar ada acara ga dan udah gue jelasin bahwa gue udah janjian sama orang untuk suatu kepentingan, tetep aja dia nggak mau terima gue ga bisa nemenin dia. Bahwa harusnya gue batalin janji (yang sudah gue schedul-in dari minggu lalu), atau biar aja orangnya nunggu sejam sampai gue selesai nganterin dia, dan berbagai alasan lain yang menurut gue ga logis. Beside, dia kan bisa naek taksi? Ini bukan kondisi dimana dia bener2 membutuhkan gue banget, masih ada solusi lain kan?
Tapi dia ga mau tau.
Dan menutup telpon dengan kata2 ini: "Ohh... jadi gitu yah? Kalo elo yang minta tolong, selalu gue bantuin. Sekarang gue minta tolong, elo ga mau bantu. Ya udah, laen kali kalo elo minta tolong lagi, gue bilang ga bisa!" Brakkk... gagang telpon dibanting.
Whatt...?????? @#$%^&*&^%$....!!!
Mari kita klarifikasi:
- Bukannya gue ga mau bantu, tapi ga bisa.
- Kondisi elo ga urgent banget, tiap harinya elo ke kampus naek taksi, cuma kebetulan hari itu elo bintitan. Malu apa sama sopir taksi sampe harus gue yang anterin segala?
- Selalu loe bantuin? Yeah, rite... kalo kita kilas balik 5 tahun ini, akan keliatan yang mana yang bener. Jangan ngaca cuma dari dua kejadian terakhir dong.
- Gue ga pernah bantuin elo? Yaaa.... sekali lagi, liat kejadian selama 5 tahun ini. Kalo dibikin list, gue yakin daftar siapa yang lebih panjang.
- And.... jangan pernah banting telpon lagi di depan hidung gue. Gileeee..... siapa yang salah, siapa yang marah sih?
Apa yang dia harapkan? Gue telpon elo? Minta maap?
Bukannya gue gengsi, tapi so far, gue rasa perlu juga kondisi seperti ini. Ketika persahabatan dihitung dengan untung rugi, gue rasa masing-masing dari kita perlu instropeksi diri deh. Soalnya kalo diliat untung rugi, berasa gue untung dimana selama ini selain ditempa supaya memiliki tenggang rasa dan toleransi yang amat tinggi akan semua kesinisan elo sama lingkungan dan sekeliling elo?
Dewasalah, teman. Nggak selamanya kita bisa bergantung sama orang lain. Ada kalanya, jalan sempit itu harus kita lalui sendiri. Tapi selama kita tau kita masih punya sahabat2 yang siap mendampingi, menerangi dan memberi petunjuk pada kita, hati kita akan selalu tenang.
Dan gue benar2 bersyukur pada Tuhan, memiliki begitu banyak sahabat dalam hidup, yang nggak pernah mikir untung rugi meski kadang gue ga punya banyak waktu untuk mereka.
Wednesday, February 28, 2007
ARRRRGGGGGGHHHHH....
Again, work zone yang bikin pala mumet.
Ga terasa ini akhir bulan lagi. Saat2 yang menjengkelkan sebagai seorang Finance.
Yupppp... apalagi kalo bukan soal gajian. Padahal buat orang lain saat2 sekarang pasti menyenangkan, hiksss....
Februari berakhir di tanggal 28, ini jelas2 bikin gue kalang kabut.
Dikantor gue, absen bulanan ditutup setiap tanggal 27. Jadi staff finance ada waktu untuk ngumpulin semua absen dari kantor, lapangan, dan kantor cabang dan kemudian dimasukkan ke program gajian. Kurang lebih makan waktu 2 hari dari tanggal 28 ke 29. Sisanya tanggal 30 dan 31 adalah waktu buat gue untuk mengolah data absensi sehingga keluarlah angka yang akan dimasukkan ke rekening masing2 karyawan atau dibayar tunai bagi mereka yang tidak memiliki rekening bank (catettttt: perusahaan kontraktor punya buanyaaaaaaakkkk buruh yang nggak punya rekening bank dan salarynya harus diamplopin satu2, *sigh*....). Singkatnya, tanggal 31 adalah bonus buat gue untuk sedikit nyantai dalam ngerjain gajian disamping kerjaan harian yang nggak pernah mau kompromi akhir bulan apa nggak.
So, gimana dengan akhir Februari. Ya jelaslah kalang kabut. Semua mesti dikelarin dalam 1 hari. Mulai dari pengumpulan absen, hingga pembayaran. Semua harus selesai paling lambat tanggal 1 besok. Kalo telat? Pasti pada sibuk nelpon buat nanyain kapan gajian? Huduhhhh, padahal kalo kerjaannya telat ngasih laporan aja, atasan nggak segitunya deh nagihnya.
28 Februari tahun ini komplit ditambah dengan jatuhnya pada hari rabu. Hari pembayaran tagihan supplier. So, kebayang ga ribetnya jadi double?
Tapi semua itu masih okelah, kalo semua berjalan sesuai dengan sistem. Tapi hari ini ada satu lagi kejadian yang bikin gue mo meledak.
Salah satu staff yang sudah kerja hampir setahun, bikin laporan yang salah. Akibatnya kalo gue ga sempat merhatiin kali ini, perusahaan kelebihan bayar. Padahal bukannya itu kegunaan elo, STAFF KEUANGAN, means mengerjakan laporan dengan benar sehingga kerjaan gue kebantu, paling nggak urusan remeh temeh seperti pengetikan dan pengakumulasian ga harus gue yang kerjain secara kerjaan lain yang lebih membutuhkan pengambilan keputusan sudah memenuhi kepala dan tangan gue.
Secara dia sudah mengerjakan laporan ini selama 5 bulan, dan gue pikir sudah saatnya dilepas sendiri, laporan ini langsung masuk meja Direksi. Di ACC (ya iyalah... emangnya mereka bisa tau laporan itu salah apa nggak? itu tanggung jawab gue kaliiii...). Sekarang giliran gue mau bayarin, baru keliatan salahnya. Huaaaaahhhhhhhh..... mati gue.
Mungkin pada mikir; ya sutralah... bilang aja ke bos yang salah siapa. Huduhhh... kalo saja segampang itu...
Bos gue adalah tipe orang yang memaklumi kesalahan pertama. Dan meyakini banget setiap orang yang mau maju adalah dengan belajar dari kesalahannya. Emang enak dikatain nggak mau maju karena salah mulu? catet: kesalahan pertama untuk laporan keuangan ini sudah diborong diawal2 ketika laporan ini baru dibuat sejak tender diperoleh. Oleh gue dan oleh staff gue juga (kesalahannya maksudnya, hehehehe...)
Akhirnya staff ini gue panggil ke ruangan gue. Sebut saja namanya JW.
Gue: Laporan ini angkanya kok salah? Biaya .... nya kok blom dikeluarin? Jadinya lebih gede nih.
JW : *ekspresi kaget* hah? salah ya ci? dimananya? (plis dehhh, tadi kan udah gue bilang?)
Gue: Angka ini (sambil nunjukin) harusnya ambil angka yang ada dilembaran ketiga, bukan yang kedua. Ini salah nih...
JW :Ohhh, lembaran yang ketiga yah, ci? (sambil bolak balik lembaran laporannya). Pake angka ini yah? trus ntar dikurangi sama apa, ci? Lalu cara ngitungnya ntar gmn? *cengengesan*
Gue: *grrrhhhhhhmmm....* yaaaa caranya sama kayak laporan bulan pertama, kedua, ketiga dan keempat. Kamu tinggal contoh aja. Kalo salah kayak gini kan Pak X bisa ngomel. Mana udah di ACC kedua belah pihak lagi.
Kamu kan udah ngerjain selama 4 bulan, saya percaya kamu bisa. Tapi kalo kayak gini, masa semua kerjaan kamu saya periksain satu2? Tangan cuma dua, JWWWWW......
Ini tuh bukan kejadian baru, di bulan yang kedua dan ketiga persis seperti ini. Yang pertama dan yang keempat mungkin agak beda.
JW : Ohhh, gitu yah, ci? Punya copyan bayaran yang lalu2 ga, ci? Mau liat lagi contohnya. *ekspresi tak berdosa*
Gue: *ARRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH..............* LIAT SANA DIRUANG ARSIP. APA PERLU SAYA YANG BONGKARINNNN....????!!!!!
Hosshhh...hosshhhh....hossshhhh..... cape dueeeehhhhhhh.....!!!
Lama2 gue bisa strooke nih....
Sekarang tinggal nunggu telpon dari bos aja yang ngomel karena mesti revisi laporan. Sigh....
Ga terasa ini akhir bulan lagi. Saat2 yang menjengkelkan sebagai seorang Finance.
Yupppp... apalagi kalo bukan soal gajian. Padahal buat orang lain saat2 sekarang pasti menyenangkan, hiksss....
Februari berakhir di tanggal 28, ini jelas2 bikin gue kalang kabut.
Dikantor gue, absen bulanan ditutup setiap tanggal 27. Jadi staff finance ada waktu untuk ngumpulin semua absen dari kantor, lapangan, dan kantor cabang dan kemudian dimasukkan ke program gajian. Kurang lebih makan waktu 2 hari dari tanggal 28 ke 29. Sisanya tanggal 30 dan 31 adalah waktu buat gue untuk mengolah data absensi sehingga keluarlah angka yang akan dimasukkan ke rekening masing2 karyawan atau dibayar tunai bagi mereka yang tidak memiliki rekening bank (catettttt: perusahaan kontraktor punya buanyaaaaaaakkkk buruh yang nggak punya rekening bank dan salarynya harus diamplopin satu2, *sigh*....). Singkatnya, tanggal 31 adalah bonus buat gue untuk sedikit nyantai dalam ngerjain gajian disamping kerjaan harian yang nggak pernah mau kompromi akhir bulan apa nggak.
So, gimana dengan akhir Februari. Ya jelaslah kalang kabut. Semua mesti dikelarin dalam 1 hari. Mulai dari pengumpulan absen, hingga pembayaran. Semua harus selesai paling lambat tanggal 1 besok. Kalo telat? Pasti pada sibuk nelpon buat nanyain kapan gajian? Huduhhhh, padahal kalo kerjaannya telat ngasih laporan aja, atasan nggak segitunya deh nagihnya.
28 Februari tahun ini komplit ditambah dengan jatuhnya pada hari rabu. Hari pembayaran tagihan supplier. So, kebayang ga ribetnya jadi double?
Tapi semua itu masih okelah, kalo semua berjalan sesuai dengan sistem. Tapi hari ini ada satu lagi kejadian yang bikin gue mo meledak.
Salah satu staff yang sudah kerja hampir setahun, bikin laporan yang salah. Akibatnya kalo gue ga sempat merhatiin kali ini, perusahaan kelebihan bayar. Padahal bukannya itu kegunaan elo, STAFF KEUANGAN, means mengerjakan laporan dengan benar sehingga kerjaan gue kebantu, paling nggak urusan remeh temeh seperti pengetikan dan pengakumulasian ga harus gue yang kerjain secara kerjaan lain yang lebih membutuhkan pengambilan keputusan sudah memenuhi kepala dan tangan gue.
Secara dia sudah mengerjakan laporan ini selama 5 bulan, dan gue pikir sudah saatnya dilepas sendiri, laporan ini langsung masuk meja Direksi. Di ACC (ya iyalah... emangnya mereka bisa tau laporan itu salah apa nggak? itu tanggung jawab gue kaliiii...). Sekarang giliran gue mau bayarin, baru keliatan salahnya. Huaaaaahhhhhhhh..... mati gue.
Mungkin pada mikir; ya sutralah... bilang aja ke bos yang salah siapa. Huduhhh... kalo saja segampang itu...
Bos gue adalah tipe orang yang memaklumi kesalahan pertama. Dan meyakini banget setiap orang yang mau maju adalah dengan belajar dari kesalahannya. Emang enak dikatain nggak mau maju karena salah mulu? catet: kesalahan pertama untuk laporan keuangan ini sudah diborong diawal2 ketika laporan ini baru dibuat sejak tender diperoleh. Oleh gue dan oleh staff gue juga (kesalahannya maksudnya, hehehehe...)
Akhirnya staff ini gue panggil ke ruangan gue. Sebut saja namanya JW.
Gue: Laporan ini angkanya kok salah? Biaya .... nya kok blom dikeluarin? Jadinya lebih gede nih.
JW : *ekspresi kaget* hah? salah ya ci? dimananya? (plis dehhh, tadi kan udah gue bilang?)
Gue: Angka ini (sambil nunjukin) harusnya ambil angka yang ada dilembaran ketiga, bukan yang kedua. Ini salah nih...
JW :Ohhh, lembaran yang ketiga yah, ci? (sambil bolak balik lembaran laporannya). Pake angka ini yah? trus ntar dikurangi sama apa, ci? Lalu cara ngitungnya ntar gmn? *cengengesan*
Gue: *grrrhhhhhhmmm....* yaaaa caranya sama kayak laporan bulan pertama, kedua, ketiga dan keempat. Kamu tinggal contoh aja. Kalo salah kayak gini kan Pak X bisa ngomel. Mana udah di ACC kedua belah pihak lagi.
Kamu kan udah ngerjain selama 4 bulan, saya percaya kamu bisa. Tapi kalo kayak gini, masa semua kerjaan kamu saya periksain satu2? Tangan cuma dua, JWWWWW......
Ini tuh bukan kejadian baru, di bulan yang kedua dan ketiga persis seperti ini. Yang pertama dan yang keempat mungkin agak beda.
JW : Ohhh, gitu yah, ci? Punya copyan bayaran yang lalu2 ga, ci? Mau liat lagi contohnya. *ekspresi tak berdosa*
Gue: *ARRRRRRRRRGGGGGGGGGGGGGHHHHHHHHHHHHHH..............* LIAT SANA DIRUANG ARSIP. APA PERLU SAYA YANG BONGKARINNNN....????!!!!!
Hosshhh...hosshhhh....hossshhhh..... cape dueeeehhhhhhh.....!!!
Lama2 gue bisa strooke nih....
Sekarang tinggal nunggu telpon dari bos aja yang ngomel karena mesti revisi laporan. Sigh....
Monday, February 26, 2007
Finished Project
Finally, ngambil hasil kruistik yang udah dibingkai dari tempat framing. Puas banget ama hasilnya....

Yang ini hadiah ultah untuk Ai Je, kelar tanggal 3 Februari lalu. Gara2 banjir, kerjanya cepet, soalnya bengong sih, hahahaa.
Gue suka warna vespanya, birunya keren. Kata Ai Je, mau pajang di gudang. Huaaaaa, sedih deh. Katanya, kalo dipajang dikamar, udah biasa. Hasil kruistiknya bagus banget, jadi bisa mencerahkan gudang yang sumpek, jadi berguna banget. Grrrhhhhhhhhh.... ga tau deh becanda apa ga? Awas loe, kapan2 gue sidak yah?
Ini Judulnya Lucky Baby, lucu yaaa? Sebenarnya dari awal Januari lalu udah kelar, cuma baru ngebingkai sekarang.
Yang ini judulnya Always by My Side, tapi gue lebih suka nyebutnya Okasaan, huahahaaa...
Ngerjainnya bareng Tika, karyawan toko. Sekarang dia lagi jahit Yu Yi yang gedeeeee banget, sementara gue masih ngerjain Chang erl yang sering di poligamy dan ditelantarkan, huhuhu....
Yang ini hadiah ultah untuk Ai Je, kelar tanggal 3 Februari lalu. Gara2 banjir, kerjanya cepet, soalnya bengong sih, hahahaa.
Gue suka warna vespanya, birunya keren. Kata Ai Je, mau pajang di gudang. Huaaaaa, sedih deh. Katanya, kalo dipajang dikamar, udah biasa. Hasil kruistiknya bagus banget, jadi bisa mencerahkan gudang yang sumpek, jadi berguna banget. Grrrhhhhhhhhh.... ga tau deh becanda apa ga? Awas loe, kapan2 gue sidak yah?
Ngerjainnya bareng Tika, karyawan toko. Sekarang dia lagi jahit Yu Yi yang gedeeeee banget, sementara gue masih ngerjain Chang erl yang sering di poligamy dan ditelantarkan, huhuhu....
Wednesday, February 14, 2007
Love to celebrate
Pasca banjir, Jakarta paw! (minjam istilah Ai Je untuk semua hal yang payaahhh…)
Sampah dimana-mana, laler dan nyamuk dimana2.
Tapi sutralah, salah kita sendiri kok. Nggak mungkin ada asap kalo ga ada api kan?
To day is Valentine Day.
Dulu setahun yang lalu, pernah ngeposting juga di hari V Day. Waktu itu suasana hati lagi dipenuhi bunga2 cinta (hueksss…)
Lalu seperti apa suasana hati Belle saat ini?
Auk ah, gelap.
Susah deh ngomongin masalah cinta. Nggak bakal ada habisnya. Nggak bakal ketemu ujung pangkalnya.
Tapi gapapalah, bukan ester geto lhoo kalo ga ngebahas beginian.
Sedari pagi, ada banyak ucapan Met Valentine Days yang gue terima dari temen. Ada beberapa yang gue balas, ada yang gue cuekin.
Okey, call me meany. But gue ngerasa ga perlu berbasa-basi dengan orang yang gue rasa nggak pantas mendapatkannya.
Umur segini masih pantes berbicara soal V day kah? Dunnow lah. Tergantung cara pandangnya sih. Kalo memandang V day sebagai hal2 yang berhubungan dengan bunga dan coklat, or party rame2 bareng pasangan2 lain, jauuuhhhh banget sudah ditinggalkan bareng seragam putih abu2 gue dulu.
Kalo terpaksa milih mungkin romantic dinner boleh juga (terpaksa..??? :D)
But since no one beside me rite now (or mungkin ini penyebab postingan bernada sinisme ini tercipta???), maka plan for tonite is nonton dvd plus segabrekan snack and juice (I don’t like soda).
Dennnnnggggg, lagi asyik nulis2 blog ini, eh, datang sms dari seorang temen ngajakin karaokean malam ini. Dilema, antara merasa kalo gue keluar malam ini akan mengkhianati seseorang dengan have fun go mad dengan temen2.
Gue berhak untuk senang2 kan? Berhak untuk berbahagia disela-sela kesibukan dan semua perasaan campur aduk lainnya?
Tapi ngerasa juga, kalo saat ini dimana2 lagi sibuk merayakan satu benda yang namanya cinta.
Benarkah layak untuk dirayakan?
Gue disini nggak berbicara soal universal love, soal cinta kepada orangtua, kepada sesama, kepada Tuhan, kepada makhluk yang lebih menderita.
Oh, Dear... liat aja dimana2, Valentine = couple. Ini masalah cinta kepada lawan jenis.
Apanya yang perlu dirayakan? Kalo hari ini bahagia pun, dalam perjalanan cinta seberapa % kebahagiaan yang bisa kita miliki?
Cemburu, sakit hati, marah, dikecewakan, dan berbagai perasaan yang ga enak yang kalo mau jujur lebih sering dirasakan daripada bahagianya.
-Orang yang kita cintai berada dalam posisi yang amat tepat untuk menyakiti kita- quote at somewhere, someplace, sometimes.
Gue nonton di salah satu film, ada scene dimana ada seorang cewek mau bunuh diri setelah ditinggal oleh pacarnya. Kepada cowok yang mau menolongnya dia curhat bahwa dia begitu kecewa. Setelah apa yang semua dia berikan ke mantannya, semua pengorbanannya, berubah seperti apa yang dia minta, tapi tetap saja nggak cukup dimata mantannya.
Out of the line, kita mungkin berpikir betapa bodohnya cewek itu. Worth it geto, mengorbankan segalanya buat si dia? Bahkan akhirnya loe sampe ga punya semangat hidup ketika dia pergi? Tapi, apakah kita mampu berpikir jernih ketika kita mengenakan sepatunya?
Ada banyak contoh lain tentang tragedi cinta. Bukan cuma di film, sering juga kita liat di kehidupan nyata. Ada temen yang rela kabur dari rumah karena nggak disetujui menikah dengan cowok pilihannya, ada yang rela menikah siri karena saking cinta padahal si cowok sudah menikah, ada yang rela dimanfaatkan, ada yang mau dijadikan ttm karena si cowok ga mau jadian.
Ada banyaaaaaakkkk banget yang dekat dengan kehidupan sehari2.
Ternyata lebih banyak dukanya daripada sukanya yah.
Apa ini jadinya kalo kita tidak bisa membedakan antara cinta, nafsu dan kebodohan?
Entahlah, gue mungkin masih blom cukup makan asam garam dunia untuk memahaminya...
Tapi gue merindukan cinta yang bahagia dan indah. Tanpa ada embel2 lain.
Mustahilkah...???
Oke, back to the film, masih ada kelanjutannya nih... si cowok penolong bilang gini
"sewaktu gue kecil, adik perempuan gue yang paliiiingggg gue sayang merengek2 minta gue untuk ambil bayi burung pipit yang ada di pohon deket rumah.
tanpa pikir panjang gue manjat ke atas pohon dan mendekati sarang burung itu. ketika hampir sampai, tiba2 datanglah emak burung yang mematuki tangan gue terus2an sampai akhirnya gue terjatuh dan kaki gue patah.
ketika sudah diobati, oma gue bertanya kenapa gue melakukan hal itu?
lalu gue menjawab karena gue mencintai adik gue dan nggak tega melihat dia menangis menginginkan anak burung itu.
oma gue dengan serius berkata, "Adikmu nggak ada anak burung itu nggak akan apa2, sebentar lagi dia akan lupa. Si ibu burung itu, bila anaknya kamu rebut, nggak akan lupa dan dia bisa saja mati saking menderitanya. Disamping itu, lihatlah kakimu, sekarang kamu terpaksa menderita menggunakan tongkat selama beberapa waktu."
Hal ini menyadarkan gue, gue telah melakukan hal yang salah. Elo mengerti makna cerita gue ini?" si cowok penolong menutup ceritanya dengan pertanyaan.
Bagaimana dengan kita? Mengertikah kita akan maknanya? Saat nonton adegan itu gue bener2 merasa tertohok. Sadar ga sadar, gue sering bertingkah mengambil anak burung untuk orang lain.
Mencintai seseorang itu bukan berarti melakukan semua kehendaknya tanpa menghiraukan apa yang benar dan salah. Mencintai seseorang itu nggak berarti kita boleh menyakiti pihak lain apalagi menyakiti diri sendiri.
Plan for tonight decided: i'll stay at home, bukan karena merasa guilty jika have fun malam ini, but just because i need rest after 9 hours spend at office plus 8 hours at home to do my other work. Let's have a beautifull V day to day with my dvd player and a full bag of chips ^_^
HAPPY VALENTINE'S DAY EVERYONE...!!!
Sampah dimana-mana, laler dan nyamuk dimana2.
Tapi sutralah, salah kita sendiri kok. Nggak mungkin ada asap kalo ga ada api kan?
To day is Valentine Day.
Dulu setahun yang lalu, pernah ngeposting juga di hari V Day. Waktu itu suasana hati lagi dipenuhi bunga2 cinta (hueksss…)
Lalu seperti apa suasana hati Belle saat ini?
Auk ah, gelap.
Susah deh ngomongin masalah cinta. Nggak bakal ada habisnya. Nggak bakal ketemu ujung pangkalnya.
Tapi gapapalah, bukan ester geto lhoo kalo ga ngebahas beginian.
Sedari pagi, ada banyak ucapan Met Valentine Days yang gue terima dari temen. Ada beberapa yang gue balas, ada yang gue cuekin.
Okey, call me meany. But gue ngerasa ga perlu berbasa-basi dengan orang yang gue rasa nggak pantas mendapatkannya.
Umur segini masih pantes berbicara soal V day kah? Dunnow lah. Tergantung cara pandangnya sih. Kalo memandang V day sebagai hal2 yang berhubungan dengan bunga dan coklat, or party rame2 bareng pasangan2 lain, jauuuhhhh banget sudah ditinggalkan bareng seragam putih abu2 gue dulu.
Kalo terpaksa milih mungkin romantic dinner boleh juga (terpaksa..??? :D)
But since no one beside me rite now (or mungkin ini penyebab postingan bernada sinisme ini tercipta???), maka plan for tonite is nonton dvd plus segabrekan snack and juice (I don’t like soda).
Dennnnnggggg, lagi asyik nulis2 blog ini, eh, datang sms dari seorang temen ngajakin karaokean malam ini. Dilema, antara merasa kalo gue keluar malam ini akan mengkhianati seseorang dengan have fun go mad dengan temen2.
Gue berhak untuk senang2 kan? Berhak untuk berbahagia disela-sela kesibukan dan semua perasaan campur aduk lainnya?
Tapi ngerasa juga, kalo saat ini dimana2 lagi sibuk merayakan satu benda yang namanya cinta.
Benarkah layak untuk dirayakan?
Gue disini nggak berbicara soal universal love, soal cinta kepada orangtua, kepada sesama, kepada Tuhan, kepada makhluk yang lebih menderita.
Oh, Dear... liat aja dimana2, Valentine = couple. Ini masalah cinta kepada lawan jenis.
Apanya yang perlu dirayakan? Kalo hari ini bahagia pun, dalam perjalanan cinta seberapa % kebahagiaan yang bisa kita miliki?
Cemburu, sakit hati, marah, dikecewakan, dan berbagai perasaan yang ga enak yang kalo mau jujur lebih sering dirasakan daripada bahagianya.
-Orang yang kita cintai berada dalam posisi yang amat tepat untuk menyakiti kita- quote at somewhere, someplace, sometimes.
Gue nonton di salah satu film, ada scene dimana ada seorang cewek mau bunuh diri setelah ditinggal oleh pacarnya. Kepada cowok yang mau menolongnya dia curhat bahwa dia begitu kecewa. Setelah apa yang semua dia berikan ke mantannya, semua pengorbanannya, berubah seperti apa yang dia minta, tapi tetap saja nggak cukup dimata mantannya.
Out of the line, kita mungkin berpikir betapa bodohnya cewek itu. Worth it geto, mengorbankan segalanya buat si dia? Bahkan akhirnya loe sampe ga punya semangat hidup ketika dia pergi? Tapi, apakah kita mampu berpikir jernih ketika kita mengenakan sepatunya?
Ada banyak contoh lain tentang tragedi cinta. Bukan cuma di film, sering juga kita liat di kehidupan nyata. Ada temen yang rela kabur dari rumah karena nggak disetujui menikah dengan cowok pilihannya, ada yang rela menikah siri karena saking cinta padahal si cowok sudah menikah, ada yang rela dimanfaatkan, ada yang mau dijadikan ttm karena si cowok ga mau jadian.
Ada banyaaaaaakkkk banget yang dekat dengan kehidupan sehari2.
Ternyata lebih banyak dukanya daripada sukanya yah.
Apa ini jadinya kalo kita tidak bisa membedakan antara cinta, nafsu dan kebodohan?
Entahlah, gue mungkin masih blom cukup makan asam garam dunia untuk memahaminya...
Tapi gue merindukan cinta yang bahagia dan indah. Tanpa ada embel2 lain.
Mustahilkah...???
Oke, back to the film, masih ada kelanjutannya nih... si cowok penolong bilang gini
"sewaktu gue kecil, adik perempuan gue yang paliiiingggg gue sayang merengek2 minta gue untuk ambil bayi burung pipit yang ada di pohon deket rumah.
tanpa pikir panjang gue manjat ke atas pohon dan mendekati sarang burung itu. ketika hampir sampai, tiba2 datanglah emak burung yang mematuki tangan gue terus2an sampai akhirnya gue terjatuh dan kaki gue patah.
ketika sudah diobati, oma gue bertanya kenapa gue melakukan hal itu?
lalu gue menjawab karena gue mencintai adik gue dan nggak tega melihat dia menangis menginginkan anak burung itu.
oma gue dengan serius berkata, "Adikmu nggak ada anak burung itu nggak akan apa2, sebentar lagi dia akan lupa. Si ibu burung itu, bila anaknya kamu rebut, nggak akan lupa dan dia bisa saja mati saking menderitanya. Disamping itu, lihatlah kakimu, sekarang kamu terpaksa menderita menggunakan tongkat selama beberapa waktu."
Hal ini menyadarkan gue, gue telah melakukan hal yang salah. Elo mengerti makna cerita gue ini?" si cowok penolong menutup ceritanya dengan pertanyaan.
Bagaimana dengan kita? Mengertikah kita akan maknanya? Saat nonton adegan itu gue bener2 merasa tertohok. Sadar ga sadar, gue sering bertingkah mengambil anak burung untuk orang lain.
Mencintai seseorang itu bukan berarti melakukan semua kehendaknya tanpa menghiraukan apa yang benar dan salah. Mencintai seseorang itu nggak berarti kita boleh menyakiti pihak lain apalagi menyakiti diri sendiri.
Plan for tonight decided: i'll stay at home, bukan karena merasa guilty jika have fun malam ini, but just because i need rest after 9 hours spend at office plus 8 hours at home to do my other work. Let's have a beautifull V day to day with my dvd player and a full bag of chips ^_^
HAPPY VALENTINE'S DAY EVERYONE...!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)