Friday, November 02, 2007

27 Days to Bali

Bali is not my most wanted place for holiday.

Secara gue besar di Pulau Nias nan indah itu :p.

Okey, i know it's nothing to Bali, but... hey, we have a beautiful island too, interesting culture of ancient tribe, great waves so foreigner often come there for surf. And it is, international events sometimes held in my beautiful island.

My home is just about 50 m from the beach, and i often spent my childhood playing on the beach to find some seashells. Jadi, sudah tau kan dari mana datangnya kulit gelap namun manis ini?

So, even if I have been in Java island for 7 years now, I never planned to spend my holiday to Bali. I prefer to go to Puncak, Bandung, Jogja, Solo or anywhere except the beach. If you spent 18 years which is the first part of your life surrounding by the sea, you know why i did that.

This year is different.
Ofcourse, like people said, "Love can make you do anything." :)

Ai Je likes Bali verymuch. Last year he went to Bali just to attended his friend's wedding. And last August, he went there with his Lomo's friends (Ai Je is Lomographyfreak :p) If you want to know what Lomo is, check this link! : www.lomography.com
.

So when his friends at work asked him to go together this November, guess what? He agreed. And he asked me to go too. I didn't see the reason to refused, beside that, i always looking forward to spend a lot of quality times with Ai Je :p.

I don't know when it's start, but i'm so exciting rite now. Apa karena Ai Je keseringan ceritain pengalaman dia selama liburan? Tempat2 yang tadinya gue anggap biasa2 aja sekarang menjadi begitu menarik?

Atau karena Ai Je ditunjuk (or menunjuk diri sendiri?) sebagai Ketua Rombongan dalam perjalanan menuju Bali bersama temen2nya kali ini, sehingga detail perjalanan sering dibahas dengan gue. Rencana2 perjalanan yang kelihatannya menarik membuat gua ga sabar akhir november segera tiba. Mengunjungi GWK, pasar Sukowati, mencoba nasi pedas Ibu Andika (okey, yang ini referensi yang gue dapat dari tabloid edisi liburan), naik banana boat (gue blom mahir berenang, agak takut sebenarnya, tapi kata Ai Je pelampungnya bisa nahan kok, hiks...), lalu ada flying fish yang sepertinya seru (gue liat di sitkom OB, tapi kata Ai Je coba dulu Banana Boat, blom tentu gua masih mau coba Flying Fish yang begitu mengerikan itu), lalu ke Uluwatu yang indah itu, dan banyaaak lagi tempat2 yang mengasyikkan seperti kata Ai Je.


Duh, can't hardly wait neh... Semoga perjalanannya nanti menyenangkan seperti yang ada dalam bayangan gue sekarang.

Bali is my most wanted place for holiday for now :)

Monday, October 01, 2007

Relationship

Relationship....
kata-kata ini sekilas terdengar enteng. Pacaran, memadu kasih, in love, atau banyak lagi sebutan lainnya. Ketika diawal2 masa ini, yang terasa semuanya indah. Semuanya ringan, hari selalu cerah, hujan pun terasa teduh.

Ketika waktu berjalan terus, semua tak laghi sekedar kunjungan dimalam minggu, tak lagi cuma acara nonton bioskop bareng, tak lagi cuma sekedar dikenalin sana sini ke keluarga dan temen2.
Ada hal lain yang bukan sekedar kulit luarnya saja.

Ada banyak hal yang harus dikompromikan. Gue ngeri ngebayangin kehidupan berumah tangga, mesti hidup dan bertatapan muka belasan jam setiap harinya. Resiko benturan dan gesekan akan semakin lebih besar, kan?

Relationship dengan orang yang kita kasihi, sekilas terasa indah dan menyenangkan. Membuat kita merasa apa yang dinamakan, "Feel butterflies in your stomach".

Tapi....


Ketika harus berkompromi sana sini dengan si dia, masihkan yang indah2 itu kita rasakan?

Gue pernah baca banyak buku tentang bagaimana cowok dan cewek itu berbeda, bagaimana gen dan hormon mempengaruhi perilaku kita sehingga seringkali cekcok karena hal sepele. Dan setiap kali gue berantem dengan Ai Je, gue sedih.

Terkadang kesal, kenapa dia ga mau mengerti gue. Kenapa dia ga mau memaklumi PMS membuat gue yang biasa imut-imut ini :p berubah menjadi amit-amit. Kenapa dia ga mau nyadar bahwa gue marah ini bukan karena ga peduli dan ga menghargai dia? Semua semata-mata mencari perhatiannya.

Tapi ketika sedang waras, maka selalu penyesalan datang terlambat. Dan gue sadar, sesadar-sadarnya bahwa Ai Je sayang ke gue, dan ga mungkin sengaja ingin melukai atau membuat gue menangis. Lalu apa yang terjadi setiap kali adegan film india terjadi diantara kita?

Entahlah, gue juga bingung. Relationship ternyata tidak sesimple yang gue pikirkan. Dan mungkin meskipun sudah banyak membaca, atau mendengarkan dari orang lain, bahwa relationship itu bukanlah menyatukan dua pribadi yang berbeda, tapi saling menerima perbedaan yang lainnya, gue masih blom dapat mempraktekkan sebenar-benarnya.

Tapi apapun itu, asalkan berdua, semua pasti bisa dilewati. Iya kan, Ai Je?

p.s: Postingan ini dipersembahkan untuk Ai Je, atas nama cinta dan kesabaranmu menghadapiku yang sangat egois dan keras kepala. Never meant to hurt your feeling, Dear. It's just PMS coming through *ngeles mode ON ;p).




Wednesday, September 12, 2007

Lately

Waduhhhhhhh.......
Kangen banget sudah lama tidak nge posting.
Saya tidak pusing melulu kok selama ini temans. Tapi sangat berterimakasih atas perhatiannya.

Life's so amazing lately. Actually, I have so many words to tell sehingga jadinya gue pusing sendiri mo mulai darimana.

Di agustus kemaren sempat kopi darat sama temen2 milis cross stitch, seru abish karena begitu ketemu, langsung seru ngomongin kruistik. Secara gue belum pernah ketemu dengan mereka secara langsung, sempet takut acara ketemuannya akan garing. Ternyata nggak tuh. Untungnya Ai Je mau nemenin nganterin ke gathering itu. Sehingga gua ga perlu pulang sendirian ngegotong2 Hoop (ram or alat bantulah untuk kruistik) yang panjangnya hampir 1 m. Thanks to Ai Je, for stay there almost 3 hours, berbicara dengan para lelaki lain yang juga sedang menemani pacar or istrinya gathering di dalam sementara mereka di teras, ga pernah kenal, ga pernah email2an, dan ga punya benang merah penghubung. Dan para ladies di dalam sedang ribut ngomongin kruistik, tukeran pola, makan2 dll. It's so sweet, honey...

Then, ada suatu waktu diantara itu juga ketika gue dihadapkan untuk mengambil beberapa keputusan sulit dalam hidup gua. Dari kejadian ini gue belajar bahwa ternyata memilih itu ga gampang. Ketika pilihan yang satu jelek dan yang lain bagus, itu sih gampang banget.
Ketika pilihannya dua2nya jelek, ini juga gampang. Toh hasilnya akan sama jeleknya. Tapi ketika pilihan yang ada didepan kita dua2nya sama bagusnya, maka seketika proses mengambil keputusan tidak gampang. Kenyataan akan kehilangan salah satunya cukup menakutkan.
Inilah sifat manusia. Ga pernah puas, serakah, dan ingin memiliki segalanya. Untung saja, gue selalu dikelilingi oleh orang2 yang sangat menakjubkan, bahkan ketika sisi buruk gue mendesak keluar, mereka tetap disana, mengarahkan, membimbing dan menyayomi. Tidak ada berkah yang lebih besar daripada ini. Sungguh.

Akhir2 ini, gue belajar juga betapa penting untuk bersyukur. Kehidupan yang sering dirasa perih, menjemukan, dan lain2, ternyata jika disyukuri sangat indah. Melihat sisi lain kehidupan orang lain ternyata banyak memberi kesadaran, bahwa hidup gue sangat perlu disyukuri. Bahwa semua kekecewaan dan rasa marah didalam diri ini ga ada apa2nya jika dibandingkan dengan penderitaan orang lain.

Lupa bersyukur membuat gue merasa jadi orang yang paling sengsara didunia ini, padahal masih banyak orang2 yang bahkan untuk makan pun mereka rela mengais2 tong sampah. Lalu siapa gue ini yang langsung ngambek ketika Ai Je menolak pergi ke restoran yang gue inginkan karena jalanan macet. Dan lebih memilih makan di tempat terdekat. Masih syukur bisa makan direstoran juga.

Siapa gue ini yang gondok setengah mati sama si mbak yang nyuci baju gara2 baju kelunturan? Sementara ada orang2 yang nyuci, mandi, gosok gigi bahkan ambil air minum dari sungai ciliwung yang bahkan sudah ga jelas warnanya lagi.

Siapa gue yang menangis kesal karena Ai Je ga bisa ngajak liburan bulan lalu, dan ngambek abis2an meski udah dijanjiin bulan depan akan pergi bareng, sementara ada orang yang bahkan boro2 mikir liburan, untuk makan aja sulit.

Mengingat ini semua, gue merasa kecil dan payah. Lupa bersyukur atas hidup yang begitu indah dan berkecukupan. Menyadari bahwa masalah2 yang kita punyai hanyalah seperti pasir di tengah gurun yang luas.

Dan ketika gue mencoba bersyukur, berterimakasih dan menerima apa adanya, bener2 terasa ringan dan melegakan. Meski jujur saja, masih harus banyak belajar lagi, tapi gue yakin kok, Tuhan punya rencana sendiri terhadap setiap kita. Dan Dia bekerja dengan cara yang tidak akan mampu kita pahami. Tapi yang pasti, Dia mengatur semuanya indah pada waktunya.

So, be gratefull everyone. Be blessed....

Monday, July 16, 2007

Pusing

Terlalu banyak ide,
terlalu banyak inspirasi,
terlalu bersemangat
terlalu sibuk,
jadinya saya pusing sekarang....

Wednesday, June 13, 2007

Quarter life excitement







Yuuupppp...!!!
I'm 25 years old now.
Seperempat abad, hiks... Membuat gue rada kecut juga menerima ucapan2 selamat ulang tahun dari temen2. Eitss... jangan salah sangka, bukan maksud hati ga bersyukur ada orang2 yang ingat dan care ke gue, cuma mengingat fakta umur semakin sedikit sisanya, tanggung jawab dan beban moral terhadap sekeliling semakin gede, yaaaa wajar dong gue jadi aware.

Tapi diatas semua itu, ulang tahun yang ke 25 ini terasa spesial. Why?
Ucapan2 dari teman2 yang care tidak henti2nya sejak pukul 00.00 wib tanggal 12 Juni 2007, obrolan2 ringan dan hangat dengan Ai Je ditelepon tengah malam itu sambil menunggu pergantian hari, merupakan berkah terindah yang gue miliki.

Begitu juga keesokan harinya. Setidaknya tekad bahwa hari ini adalah hari bahagia, jadi gue ga boleh marah2, bersyukur sepanjang hari bukan hal yang susah untuk dilakukan.

Lalu bagaimana rencana kencanku dimalam itu?

Sejak ABG, ulang tahun ke 25 dalam impian gue adalah ulang tahun yang elegan, nggak usah rame2 kek 17 tahunan, cukup romantic dinner with my boyfriend. Ditempat indah dan romantis? Candle light dinner? Itu bonus! Itu idealnya.

So, sedari kemarin gue mikirin mau ngajak Ai Je kemana dihari ulangtahun gue. Secara makan2 dengan keluarga gue jadwalkan hari ini, kemaren gue mesti les inggris (yang amat sangat pengen gue bolosin, tapi mengingat akan mendapat tatapan alis mata naik sebelah dari Ai Je), maka gue terpaksa datang juga untuk bercas-cis cus di kelas. Sementara kepala gue dipenuhi dengan berbagai rencana dinner dengan Ai Je selepas kelas inggris ini.

Ketika nyampe rumah, Ai Je sudah sampe duluan, nggak tau dia nunggu berapa lama. Tapi gue liat tampangnya capek banget. Mungkin kerjaan kantor lagi banyak2nya. Betapapun pengen menikmati romantic dinner dengan Ai Je, gue sadar bukan langkah bijaksana memaksakan hal itu saat ini.

Lalu saat sudah berpasrah dan membesarkan hati sendiri bahwa toh besok Ai Je juga ikut makan2 bersama keluarga dan sepupu2 gue, tiba2 Ai Je mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

Gue tau dia akan mengeluarkan hadiah untuk gue, meski gue blom tau apa hadiahnya. Tapi yang merupakan surprise kecil yang sangat manis adalah Ai Je mengeluarkan sepotong kue berlapis coklat lalu menaroh lilin kecil diatasnya, membakar lilinnya, menyodorkan kue itu lalu mengucapkan selamat ulang tahun ke gue. Hikkkssss, dadaku penuh sesak bahagia.

Dan akhirnya kami menghabiskan malam itu dirumah saja, menonton dvd desperate housewife seasons 3. Ai Je bertindak sangaaat manis sebagai bagian dari hadiah ulang tahun gue secara dia nggak suka opera sabun kek desperate housewife yang katanya banyak mehe2 dan problemnya terlalu mengada-ngada. Tapi malam itu tanpa komplainan menemani gue menonton dan nggak sekalipun megang2 remote dan mengganti ke siaran favoritenya. It was so sweet of you, honey...

Gue nggak pernah membayangkan duduk berdua saja didepan tivi bisa begitu menyenangkan dan nggak membosankan. Dan rencana untuk makan diluar, terasa tidak begitu menarik lagi.

Mungkin ulang tahun ke 25 gue ini bukan yang terelegan seperti yang ada dibenak gue selama ini, tapi yang pasti, ini ulang tahun yang sangaaat manis dan indah yang menambah goresan sejarah dalam hidup gue. Semoga ini bukan yang terindah, sebab tentu saja, gue ingin ada banyaaaaakkkk ulang tahun lagi yang lebih indah dari ini, yang tentu saja bersama Ai Je.

Tapi tentu saja, hal ini ga berarti Belle berhenti bermimpi tentang impian terindah di hari ulang tahunnya.
Ke depannya? Hmmmm... Ulang tahun ke 50 yang akrab dan hangat, dikelilingi keluarga, suami, banyak anak-anak, cucu-cucu yang masih kecil, sepertinya indah untuk dibayangkan.

let's make it happen
^-*

Thursday, May 31, 2007

M A T I

Aku ini...
Memang akan mati tanpamu
Tapi aku juga akan mati
Bila kau mati ditanganku.

*halah, ngomong apa sih? lagi error nih!*

Monday, May 28, 2007

A piLe oF meMoRy tO rEmeMbEr

Waaakkssss.... udah hampir akhir Mei. Dah lama nggak ngeblog, nggak sempet, nggak mood, nggak ada ide, huehehehe....
Tapi akhir2 ini sebenarnya banyak peristiwa yang terjadi, menyesal juga nggak menorehkan sedikit kenangan di blog bahkan di diary. Karena merangkum serpihan memory sepertinya nggak akurat, apalagi mengenai sensasi perasaan yang dirasakan ketika suatu peristiwa terjadi. Hanya saja, kayaknya kemaren2 itu lagi males aja numpahin perasaan, mungkinkah hati ini jadi beku? Huahahaa, jangan muntah2 gitu dong, temanz pembaca... gue kan cuma coba2, siapa tau berbakat jadi penyair :p

Akhir2 ini keknya perasaan gue tegang mulu, entah karena kerjaan kantor high pressure akhir2 ini, atau karena bad relationship dengan seseorang, atau entah karena apa. Bisa jadi karena lagi diet ketat yang konon kata orang bisa menyebabkan depresi atau mood yang ga terkontrol.

Tapi ini salah satu hal yang menggembirakan gue dalam 2 bulan ini. I've lost 7 kgs at three months from february 2007. :D

More ways to go... ^-^

I think so... -_-

I hope so... :(

Beberapa teman bilang ini terlalu drastis, tapi menurut gue, ga terlalu ekstrem kok dietnya. Since Feb, gue merubah pola makan dengan yang lebih sehat. No junk food, no snack, no krupuk (hiks...), and a lot of no no no lainnya.

Nasi katringan di kantor awal2nya gue minta office girl sisihin setengah, terserah dia mau kasih siapa. Lama2, sekarang gue tinggal makan 1/4 nya. Makan malam dikurangi, perbanyak makan buah2an. Meski sampe sekarang godaan apalagi kalo weekend itu bener2 bikin mental goyah, hehehe....

Tapi gue puas ama hasilnya... Hanya saja, seperti biasa, gue selalu curiga dengan keadaan yang berjalan baik-baik saja, seolah ketenangan yang ada akan disusul dengan badai tornado yang menghancurkan.
Oke, berlebihan memang, maksud gue, ada rasa takut jika suatu saat gue jenuh berpola makan sehat ini, dan semua usaha gue sia-sia. Karena terus terang aja, yang sehat itu nggak enak, yang enak itu ga sehat (duh, iklan banget yah...

Balik lagi ke topik awal, mungkin juga ketegangan gue berasal dari seringnya nonton CSI akhir2 ini. Yeeppp... Crime Scene Investigation. Gue tau serial ini udah lama, dikasih tau sama temen. Tapi waktu itu dengernya aja malas. Sejak nonton pertama kali serialnya di TV kabel (karena ga bisa bekerja dalam keadaan hening dan gue bosen muter koleksi cd yang seuprit, jadi terpaksa nonton secara siaran yang lain lagi jelek atau udah pernah nonton) gue nonton serial ini padahal ga tau judulnya, dan gue suka. Pas liat judulnya, alamaaakk... CSI, season 7 pula. Jadilah daku berburu DVDnya. Dari season 1 sampe 6. Sekarang gue udah dapat 5 season dari 6 season yang gue cari.



Ga puas sampe situ, gue berburu versi Miami dan New York nya. Yaaahhh... saya sudah menjadi addicttive, padahal secara mental adalah penakut banget, tetep aja sok nonton filem itu, hehehee....



Kehidupan kantor juga bergejolak, mulai dari berusaha semaksimalnya memuaskan keinginan bos yang nggak ada habis2nya, sampe capek ati mengadapi staff yang "au-ban" banget sehingga (maaf, saya memang kejam), gue terpaksa mengusulkan kepada direksi untuk mem -phk kan staff ini atau gue yang akan resign (ancaman yang nggak perlu sebenarnya, mengingat permintaan gue itu masih masuk akal karena didukung alasan2 yang kuat. Beside... duh, milih berhentiin prajurit atau komandannya? hayooo?)

Lalu awal bulan Mei ini gue baru ikutan kursus di salah satu lembaga yang gurunya native semua. Deeeeehhhhh, nilai positifnya adalah: mata jadi segar, karena banyak pemandangan bagus alias bule2 keren (meski yang udah expired juga ada sih, hihihi...). Cuma, memang tak ada gading yang tak retak, gue salah milih jadwal. Ngambilnya stengah5 sore. Ceritanya karena jam pulang kantor gue lebih cepet dr yang laen alias jam 4, gue pikir mending ambil stengah 5.

Ohya, daku cuma dapat grade Intermediate 2 waktu ujian penempatannya. Kata yang nguji sebenarnya gue ini ada di perbatasan antara inter2 dan inter3. Hiks, kasian banget Inggrisku yah.
Nah, karena kelas inter3 ga jelas kapan mau mulai, sementara semangat gue untuk nge-les sedang menggebu-gebu, meski ditawarin inter3 dan disuruh nunggu, gue keukeh ngambil inter 2.
Begitu hari pertama, alamaaakkk, keknya gue yang paling tuwir deh dikelas ini. Yang paling deket umurnya dengan gue tetep aja lebih muda setahun dari gue, hikk...hikkkss.... Yang paling muda? Huaaaaa... ada yang 14 tahun, bo. Masih smp.

Lalu gue langsung bersumpah dalam hati, kalo naik level, gue akan pilih jam 7 malam. Habisnya, ni anak-anak biarpun masih culun2, tp inggrisnya jago2. Kan gue jadi tengsin sendiri, hehehee...
Pernah ngintip kelas inter1 yang jam 7 malam, semua isinya seangkatan gue, pada pake kemeja kerja dan yaaaahhhhh ga lebih mudalah dari gue, hehehe...

Jadi gue kan ga nyolok sendirian, hiks.

Generally, suasana kursusnya menyenangkan. Apalagi guru2nya ada yang keren. Yah, anggap aja refreshing dari pulang kerja, bisa ngobrol2 sambil maen games yang seru2 dengan bule keren, pura2 pasang tampang bego biar dideketin dan diajarin privat. Huahahahaha, beneran gue merasa kayak devil waktu menjalankan siasat ini, hehehehee... Abisnya anak2 laen pada polos2 deh mukanya, hehehehe....


Another story of my life, Ai Je is becoming a part of my life now. Well, love life is complicate. Don't ask me how i feel, and how it could be happen, the only thing i know is I'm very grateful to have him in my life.

Perjalanan hidup ini berliku dan kita nggak pernah tau akan mengalir dan bermuara kemana. Meski bukan penganut "Let it flow", tapi gue bukan tipe orang yang suka menentang takdir. So, Let It Be mungkin lebih tepat. Kalo semua ini akan ga berhasil juga Ai Je, mungkin memang saatnya gue untuk menyerah.

But, kejadian ini mungkin sebagai bukti ,"Never give up in faith!"
Sekarang tinggal liat sajalah, sampe mana kita sanggup menjalaninya kan? Kalo memang akan berakhir seperti dulu lagi, paling nggak, gue nggak akan menyesal ketika membaca kenangan ini, I've try my best.

I can, I'm sure all of us can do that. Keep the faith! (Astagaaaa...! Bon Jovi abissshhh..!!! Hehehe...)

Monday, May 21, 2007

Bukan keluh kesah, tapi bahagia!

Kata orang cinta itu ajaib.
Kuasanya melebihi serangan tornado dengan dua pusaran.
Aku percaya!

Karena cinta aku menjadi gila,
Meraung dalam marahku.
Karena cinta aku mati,
Lalu lemas tak berdaya.

Terkubur, dan terlupakan.
Menjalani hari seperti zombie.
Melakoni panggung kehidupan yang suram,
berkubang duka dan terkubur
Tak lagi menanti.

Dan ketika jiwa tak mampu berkompromi
Ketika mati rasa itu tak mampu meng-imuni deritaku
Kau datang, mengulurkan tangan
Menyentuh setiap kelam menjadi cerah.

Kau yang datang menawarkan cahaya,
setelah habis nafasku meminta dan tak kunjung terang datang.
Kau yang meniupkan nafas ke jantung yang tak lagi berdetak.
Aku ini cuma Lazarus.
Cuma seonggok mayat yang mengharapkan segenggam biji lada.


Jika ini cuma mimpi dari tidur panjangku,
maka siapapun jangan bangunkan aku.
Jika ini nyata, semoga kekal abadi selamanya.
Berjalan disisimu, adalah bahagiaku.

***

p.s:
untuk Ai Je,
Apapun alasanmu berada disisiku, terimakasih...
sesak ini karena bahagia, sungguh!

Tuesday, April 03, 2007

M E N C I N T A

Baru baca postingan seseorang soal cinta dan mencinta. Dan secara tiba-tiba semangat menulis blog muncul lagi, hehehee....

Maap buat temen2 yang mampir2 ke sini tapi ga ada tulisan2 baru. Yang punya blog lagi mumet soalnya. Liat aja beberapa tulisan terakhir yang isinya ngeluuuuuuuuuuuuuhhhhhh mulu. Jadi agak2 ngerem tangan untuk menulis, daripada isinya cuma ngata2in orang aja, huehehehe....

Di blog yang gue baca itu, yang nulis nanyain soal apakah mencintai = memiliki? kenapa kita selalu menganggap yang kita cintai itu adalah kepunyaan kita? dan ada banyak pertanyaan2 lain yang mungkin sering muncul dibenak kita, ga peduli cowok or cewek.

Kemaren siang, ditengah hari bolong saat gue sedang menikmati awal2 bulan setelah berperang dengan angka2 yang merupakan rutinitas setiap tutup bulan, gue berchating-chating ria dengan beberapa teman di YM. Mulai dari menyapa teman lama, sampe obrolan ga penting banget yang sebenarnya gue sendiri ragu ada manfaatnya atau ga ^_^

Entah darimana mulainya, gue dan temen itu ngebahas soal relation ship. Antara pria dan wanita, tentu saja. Or, mungkin antara pria dan pria (dalam tanda kutip) atau wanita dan wanita (dalam tanda kutip juga), ;p.

Lalu gue mulai bercerita, tentang perjalanan pribadi gue dulu sekali...


Long time a go, disalah satu episode hidup gue entah chapter berapa, gue pernah merasa sediiiiiiiihhhhhhhh banget. Ketika merasa kehilangan jati diri saat mencintai seseorang. Ketika akhirnya semua berakhir saat seseorang yang kita sayang bilang ...

...

...

...

Sorry, nggak dapat nerusin tulisannya. I've opened my YM archived untuk mencari dengan pasti dulu itu dia bilang apa, dan semuanya masih disitu.

Tersimpan dengan rapi seperti tonggak sejarah.

Terbaca...

Membuka luka lama...

Dan ternyata masih sakit...

Dan nyawa gue untuk nge-blog terbang entah kemana.

Maap yah, teman-teman. Suatu saat postingan ini akan disambung lagi, kalo sudah tidak merindu lagi.

catatan untukmu: entah kalo saat-saat itu menyakitkan, entah siapa yang jadi korban antara aku dan kamu, tapi entah mengapa, i still miss you somehow... (12 Juli 2005 - 17 Maret 2006). you know who you are...





Tuesday, March 20, 2007

Best friend ever?

Gue lupa kapan semua ini mulai.
Mungkin sekitar 1 or 2 bulan lalu.

Dan semua ini membuat gue jadi tertegun untuk sebentar mereview, apa arti persahabatan buat gue.

I thought we were friend. Best friend malah. Tapi sejak nggak ada balasan akan sms dan telpon gue, masih layak nggak sih kata2 diatas.

I knew her since i was at the 2nd year in college. At that time, kami sama2 anak baru di kos2an deket kampus. Kampus gue dan dia bersebelahan. Bersama 2 anak baru laennya, kita ber4 cukup deket satu sama lain.

Time's fly....
Satu persatu meninggalkan kos2an. Lost contact each other, entah kenapa gue dan dia malah menjadi lebih deket dari kemaren2.
Hang out bareng, pergi ber4 bareng 2 orang temen cowok laen. Sometimes cuma duduk2 berdua di cafe untuk saling curhat2an.


Untungnya selera kita akan cowok sangat bertolak belakang. Jadi, nggak pernah rebutan cowok yang sama (haiyaaaahhhh, kalo sama pun, emang worth it geto, rebutan cowok? Hehehe…)

Banyak hal yang sudah gue lalui dengan dia. Dan pernah juga berpikir, mungkin dia salah satu best friend dalam hidup seorang Belle. Marahan, sering. Jutek2an, sering. Adu argument? Lebih sering lagi.

But, ada yang ga bener akhir2 ini.

Dia orangnya keras. Kalo kata buku personality sih orangnya koleris koleris (perhatikan kombinasi karakternya :p). Sementara gue adalah orang yang koleris sanguin (or sanguin koleris?). Banyak orang yang nanya kenapa kita cocok banget. Padahal sering berantem juga. But, I thought it was oke.
Until last month…

Apa sih artinya seorang sahabat? Apa bedanya sahabat dan temen? Kalo emang beda, mana yang lebih baik, punya temen yang banyak apa punya satu orang sahabat saja?

Beruntungnya gue, ada begitu banyak orang2 yang gue kategorikan sahabat dalam hidup. Sejak kecil, meski punya banyak temen, ada segelintir orang yang gue sebut sahabat. Dan seiring berlalunya waktu, sahabat2 terus bertambah, bukan tergantikan. Meski kehilangan kontak, atau lama nggak berhubungan dikarenakan jarak dan waktu, mereka tetap istimewa dihati. Karena gue tau, kalo gue menyediakan sedikit waktu menghubungi mereka, mereka akan tetap ada disitu, seperti gue yang selalu berusaha ada ketika mereka menghubungi gue.

Pandangan dan prinsip hidup kita berbeda. Gue besar dengan didikan kerja keras dari keluarga. Ntah karbitan apa nggak, ntah dipaksakan atau nggak, kemandirian adalah kata2 yang sering berlalu lalang di kepala gue. Pemalas? Aduhhh… itu gue banget. Tapi bokap nyokap adalah orang yang sama keras kepalanya dengan gue. Nggak pernah bosen jejalin gue dengan prinsip dan semangat hidup yang mereka miliki. Dan gue bener2 bersyukur akan itu. Kalo nggak diajarkan dengan cara seperti itu, mungkin gue cuma akan jadi anak manja yang berlindung dibalik ketiak orang tua, bergantung sepenuhnya kepada orang lain seumur hidup (dalam kasus ini dari orang tua ke suami; keuntungan hidup sebagai seorang wanita :p), dan akan selalu dan selalu menyalahkan orang lain akan hal2 yang salah dalam hidup gue.

Dia?Ga tau lah, yang bisa gue liat dengan jelas adalah terlalu cepat menyerah, nggak cukup fight, dan selalu berpikir bahwa dunia berputar mengelilingi dia.

Tapi apalah gue ini? Seorang sahabat? Berhak merubah prinsip hidup seseorang? Jelas nggak lah. Esensi persahabatan adalah menerima apa adanya. Almost 5 years, dan gue fine2 aja dengan sikap dia. Ketika gue ga melihat satupun sisa2 temen kuliah dia yang masih deket hingga saat ini, atau temen kos yang sudah berapa kali pindah, atau temen dari smu dulu. Nggak ada satupun. And I still there. Menyisihkan sedikit waktu yang gue punya, yang seharusnya gue bagi juga dengan temen2 yang lain, sahabat2 yang lain, tapi ga pernah cukup. Gue ga mikirin itu semua.

Juga ketika dia bilang nggak pernah punya rasa sama cowoknya (sekarang sudah mantan), hell yeah, kenapa bisa bertahan 3,5 tahun?
Apa karena sudah menemukan orang baru? Silahkan… Ini hidup elo, elo berhak menentukan siapa yang datang dan pergi. Gue cuma bisa kasih pandangan, dan ketika balik disudutkan, yah gue diam aja.

Ketika segala sesuatu tentang cowok gue dicela, meski gondok, gue diamkan saja. Yeah, selera elo emang paling top. Dan gue memilih untuk tidak berkonfrontasi. Apa untungnya?

Ketika semua temennya yang lain sibuk dengan kegiatan sendiri2 semenjak lulus kuliah, kerja dari pagi hingga malam, maybe no time no money untuk hura2, gue menyediakan waktu (secara jabatan gue dikantor lebih flexible soal beginian) untuk sekedar hang out, nonton atau window shopping dengan dia.

Tetap aja nggak cukup.

And I have my own life. I have my own dream.

Mungkin karena sejak November lalu, kegiatan sore hari gue disibukkan dengan aktifitas lain yang menyita waktu. Bahkan untuk urusan love life, bener2 dipas-pasin waktunya.

So, since that time, sering banget gue denger kata2 ini, mulai dari

“Ayolah, gue pengen banget nonton film ini, masa loe tega gue nonton sendirian?”,

“Elo pergi sama cowok elo minggu depannya aja, minggu ini pergi ama gue aja! Gue butuh baju baru nih, untuk datang ke acara ini”,

hingga kalimat seperti ini,

“Elo ga asik!”.

Apa yang bisa gue lakukan? Menelan ludah dan (jujur!) feeling guilty. Sometimes, kalo udah capek banget, malam2 hari, gue sering mikir, worth it ga sih yang sedang gue lakukan? Kerja dari pagi sampe sore dikantor, nggak puas2nya, lalu kerja lagi dari jam pulang kantor sampe larut malam. Entah itu dilakukan diluar rumah, atau dirumah. Apa nggak lebih baik milih salah satu? Secara bisnis sendiri masih belajar merangkak, berarti gue kerja kantoran saja? Lalu isi hidup dengan leyeh-leyeh, santai-santai, foya-foya? Hidup cuma sekali kan?

Tapi nggak, gue kan bukan dia? Yang dengan gampangnya keluar dari kerjaan yang baru 2 bulan ditekuninya cuma karena malas bangun pagi. Lalu masuk lagi ke perusahaan itu setelah ditawari kompensasi yang cukup menggiurkan. Lalu keluar lagi 3 bulan berikutnya karena jenuh. Pakai sepatu atasan elo itu, gimana rasanya diperlakukan seperti itu, nyari orang baru bukan hal yang mudah tau.

Gue bukan orang yang dengan gampangnya menghabiskan uang orangtua untuk ngambil kuliah tingkat master, cuma karena gue ga mau disebut pengangguran karena ga bekerja setelah tingkat sarjana gue selesai.

Duh, sebenarnya bukan mau ngejelek2in orang sih, cuma kadang gue sebel sama prinsip hidup yang seperti itu. Apa daya, kalo gue coba ngasih pendapat, yang ada malah disinisin. So, what can I say?

Selama ini mungkin bener, waktu gue untuk bersosialisasi agak kurang. Semakin sibuk, maka semakin memilah2 kegiatan bernilai tambah mana yang bisa diikuti, yang mana yang masih bisa diundur. Hei… ini ga selamanya kan?

Nah, singkat cerita, suatu hari beberapa minggu yang lalu, gue pernah minta tolong orang yang gue panggil sahabat ini (kita panggil saja A) untuk ngambil sepasang mur baut no 10 di kantor tempatnya bekerja, secara motor gue emang gue beli disana.

Gue suruh dia nyolong? Eittsss, enak aja. Ceritanya gini, gue kenal juga seorang temen kerjanya (sebut saja si B) yang sekarang udah ga kerja disitu lagi. Kebetulan ketemu pas mur baut nomor plat motor gue copot, langsung aja gue tanyain nama barangnya apa dan biasanya bisa beli dimana (secara gue buta sama sekali soal sparepart dan sejenisnya).
Si B bilang ngapain beli, minta aja ke showroom ex kantor dia, biasanya dikasihin gratis.
Nah, wajar dong, gue langsung sms si A, untuk ambil mur baut ini sepasang. Setelah perdebatan sengit bahwa susah ngambilnya, ga tau tempatnya, ntar si bos marah, akhirnya (pada detik gue mau menyerah dan mau bilang bahwa gue beli aja ditempat lain) dioke-in sama si A.

Sorenya, si A khusus telpon gue untuk menceritakan susahnya pengalamannya mengambil mur baut itu. Bagaimana hamper ketahuan sama bosnya (huaaahhh, gue kan ga suruh nyolong. Mana gue tau kalo si bossnya ga ngijinin ngasih mur baut itu), lalu bagaimana kerjaannya terbengkalai karena harus memikirkan siasat mengambil mur baut itu, and so on, and so on. Menghela nafas, gue mikir, lebih baik tadi gue beli aja ditempat lain. Seribu dua ribu perak kali tuh barang.

Score: 1-0 for her

Nah, itu kejadian pertama. Kira2 seminggu setelah itu, gue sms A. Untuk minta dia nemenin gue dirumah secara adek gue dan sepupu2 yang laennya pada nginap plus ada yang lagi pulang kampung karena kuliahan pada libur. Well, gue dan A sering saling nginap2an satu sama lain, so it was not a very2 extraordinary thing actually. Dia bales nggak bisa, coz udah terlanjur bikin acara dengan temen laennya. So, ya udah, what can I say? Nyari temen laen aja buat diajakin nginap.

Tiba2 sms dia datang, n said like this, “Ter, ya udah deh, gini aja, loe temenin gue nonton di CL, trus kita hangout di Oh la la. Gue batalin janji gue malam ini deh.”
See? Kalo elo dibilangin gitu, persepsinya apa? Si A bersedia ngebatalin janji dan nemenin elo kan? Selama elo mau nemenin dia nonton dan hangout.
Sejujurnya, film yang lagi mo dinonton itu bukan selera gue, dan seperti yang gue bilang tadi, kerjaan dirumah itu numpuk. Tapiiiii… disinilah payahnya gue, karena gue ga mau tinggal sendiri dirumah malam itu, dan gue yakin kalo ga gue iyain, maka ga mungkin banget dia mau nginap.So gue iyain. Jadilah kita pergi sore itu sepulang kerja.

And guess what? Ketika malamnya mau pulang, dengan enaknya dia bilang bahwa dia mau pulang ke rumahnya. Terang aja gue melotot? Jadi elo mau bilang, gue wasting time ga ada hasil neh nemenin elo kesana kemari?
Tau ga dia bilang apa? “Ih, gue kan ga bilang mau nemenin elo nginap? Gue kan cuma ngajak nonton dan makan doang? Liat deh isi sms gue.”

Sh*t, dia benar. Ga ada isi sms dia yang menyatakan mau nginap di rumah gue. Sejenak gue merasa kayak orang bego diparkiran saat itu. Tapi akhirnya dengan ketus gue bilang aja bahwa isi sms dia menyiratkan begitu. Dan kalo dia nggak mau, seharusnya bilang dari tadi, biar gue bisa nyari temen lain. Kalo udah malam kek gitu, siapa juga yang bisa diajakin nginap?

Akhirnya setelah perdebatan panjang, akhirnya dia nyerah, nemenin gue dirumah.

Score: 2-0 for her


Beberapa hari kemudian, dia telpon gue untuk minta tolong nganterin dia ke kampus pasca sarjananya dia. Padahal ketika awal2 ngobrol di telpon, dia udah nanya duluan, sore ntar ada acara ga dan udah gue jelasin bahwa gue udah janjian sama orang untuk suatu kepentingan, tetep aja dia nggak mau terima gue ga bisa nemenin dia. Bahwa harusnya gue batalin janji (yang sudah gue schedul-in dari minggu lalu), atau biar aja orangnya nunggu sejam sampai gue selesai nganterin dia, dan berbagai alasan lain yang menurut gue ga logis. Beside, dia kan bisa naek taksi? Ini bukan kondisi dimana dia bener2 membutuhkan gue banget, masih ada solusi lain kan?

Tapi dia ga mau tau.

Dan menutup telpon dengan kata2 ini: "Ohh... jadi gitu yah? Kalo elo yang minta tolong, selalu gue bantuin. Sekarang gue minta tolong, elo ga mau bantu. Ya udah, laen kali kalo elo minta tolong lagi, gue bilang ga bisa!" Brakkk... gagang telpon dibanting.

Whatt...?????? @#$%^&*&^%$....!!!

Mari kita klarifikasi:

  1. Bukannya gue ga mau bantu, tapi ga bisa.
  2. Kondisi elo ga urgent banget, tiap harinya elo ke kampus naek taksi, cuma kebetulan hari itu elo bintitan. Malu apa sama sopir taksi sampe harus gue yang anterin segala?
  3. Selalu loe bantuin? Yeah, rite... kalo kita kilas balik 5 tahun ini, akan keliatan yang mana yang bener. Jangan ngaca cuma dari dua kejadian terakhir dong.
  4. Gue ga pernah bantuin elo? Yaaa.... sekali lagi, liat kejadian selama 5 tahun ini. Kalo dibikin list, gue yakin daftar siapa yang lebih panjang.
  5. And.... jangan pernah banting telpon lagi di depan hidung gue. Gileeee..... siapa yang salah, siapa yang marah sih?
Tapi sutralah, kejadian hari itu gue pikir selesai sampe disitu. 2 hari kemudian, salah seorang temen kita ada yang bawa oleh2 makanan dari solo. Semuanya di drop ke rumah gue. Pas gue sms dia untuk bilang bahwa jatah dia ada di gue, sms gue ga dibales. Demikian sms berikutnya.
Apa yang dia harapkan? Gue telpon elo? Minta maap?

Bukannya gue gengsi, tapi so far, gue rasa perlu juga kondisi seperti ini. Ketika persahabatan dihitung dengan untung rugi, gue rasa masing-masing dari kita perlu instropeksi diri deh. Soalnya kalo diliat untung rugi, berasa gue untung dimana selama ini selain ditempa supaya memiliki tenggang rasa dan toleransi yang amat tinggi akan semua kesinisan elo sama lingkungan dan sekeliling elo?

Dewasalah, teman. Nggak selamanya kita bisa bergantung sama orang lain. Ada kalanya, jalan sempit itu harus kita lalui sendiri. Tapi selama kita tau kita masih punya sahabat2 yang siap mendampingi, menerangi dan memberi petunjuk pada kita, hati kita akan selalu tenang.

Dan gue benar2 bersyukur pada Tuhan, memiliki begitu banyak sahabat dalam hidup, yang nggak pernah mikir untung rugi meski kadang gue ga punya banyak waktu untuk mereka.