Waduhhhhhhh.......
Kangen banget sudah lama tidak nge posting.
Saya tidak pusing melulu kok selama ini temans. Tapi sangat berterimakasih atas perhatiannya.
Life's so amazing lately. Actually, I have so many words to tell sehingga jadinya gue pusing sendiri mo mulai darimana.
Di agustus kemaren sempat kopi darat sama temen2 milis cross stitch, seru abish karena begitu ketemu, langsung seru ngomongin kruistik. Secara gue belum pernah ketemu dengan mereka secara langsung, sempet takut acara ketemuannya akan garing. Ternyata nggak tuh. Untungnya Ai Je mau nemenin nganterin ke gathering itu. Sehingga gua ga perlu pulang sendirian ngegotong2 Hoop (ram or alat bantulah untuk kruistik) yang panjangnya hampir 1 m. Thanks to Ai Je, for stay there almost 3 hours, berbicara dengan para lelaki lain yang juga sedang menemani pacar or istrinya gathering di dalam sementara mereka di teras, ga pernah kenal, ga pernah email2an, dan ga punya benang merah penghubung. Dan para ladies di dalam sedang ribut ngomongin kruistik, tukeran pola, makan2 dll. It's so sweet, honey...
Then, ada suatu waktu diantara itu juga ketika gue dihadapkan untuk mengambil beberapa keputusan sulit dalam hidup gua. Dari kejadian ini gue belajar bahwa ternyata memilih itu ga gampang. Ketika pilihan yang satu jelek dan yang lain bagus, itu sih gampang banget.
Ketika pilihannya dua2nya jelek, ini juga gampang. Toh hasilnya akan sama jeleknya. Tapi ketika pilihan yang ada didepan kita dua2nya sama bagusnya, maka seketika proses mengambil keputusan tidak gampang. Kenyataan akan kehilangan salah satunya cukup menakutkan.
Inilah sifat manusia. Ga pernah puas, serakah, dan ingin memiliki segalanya. Untung saja, gue selalu dikelilingi oleh orang2 yang sangat menakjubkan, bahkan ketika sisi buruk gue mendesak keluar, mereka tetap disana, mengarahkan, membimbing dan menyayomi. Tidak ada berkah yang lebih besar daripada ini. Sungguh.
Akhir2 ini, gue belajar juga betapa penting untuk bersyukur. Kehidupan yang sering dirasa perih, menjemukan, dan lain2, ternyata jika disyukuri sangat indah. Melihat sisi lain kehidupan orang lain ternyata banyak memberi kesadaran, bahwa hidup gue sangat perlu disyukuri. Bahwa semua kekecewaan dan rasa marah didalam diri ini ga ada apa2nya jika dibandingkan dengan penderitaan orang lain.
Lupa bersyukur membuat gue merasa jadi orang yang paling sengsara didunia ini, padahal masih banyak orang2 yang bahkan untuk makan pun mereka rela mengais2 tong sampah. Lalu siapa gue ini yang langsung ngambek ketika Ai Je menolak pergi ke restoran yang gue inginkan karena jalanan macet. Dan lebih memilih makan di tempat terdekat. Masih syukur bisa makan direstoran juga.
Siapa gue ini yang gondok setengah mati sama si mbak yang nyuci baju gara2 baju kelunturan? Sementara ada orang2 yang nyuci, mandi, gosok gigi bahkan ambil air minum dari sungai ciliwung yang bahkan sudah ga jelas warnanya lagi.
Siapa gue yang menangis kesal karena Ai Je ga bisa ngajak liburan bulan lalu, dan ngambek abis2an meski udah dijanjiin bulan depan akan pergi bareng, sementara ada orang yang bahkan boro2 mikir liburan, untuk makan aja sulit.
Mengingat ini semua, gue merasa kecil dan payah. Lupa bersyukur atas hidup yang begitu indah dan berkecukupan. Menyadari bahwa masalah2 yang kita punyai hanyalah seperti pasir di tengah gurun yang luas.
Dan ketika gue mencoba bersyukur, berterimakasih dan menerima apa adanya, bener2 terasa ringan dan melegakan. Meski jujur saja, masih harus banyak belajar lagi, tapi gue yakin kok, Tuhan punya rencana sendiri terhadap setiap kita. Dan Dia bekerja dengan cara yang tidak akan mampu kita pahami. Tapi yang pasti, Dia mengatur semuanya indah pada waktunya.
So, be gratefull everyone. Be blessed....
Kangen banget sudah lama tidak nge posting.
Saya tidak pusing melulu kok selama ini temans. Tapi sangat berterimakasih atas perhatiannya.
Life's so amazing lately. Actually, I have so many words to tell sehingga jadinya gue pusing sendiri mo mulai darimana.
Di agustus kemaren sempat kopi darat sama temen2 milis cross stitch, seru abish karena begitu ketemu, langsung seru ngomongin kruistik. Secara gue belum pernah ketemu dengan mereka secara langsung, sempet takut acara ketemuannya akan garing. Ternyata nggak tuh. Untungnya Ai Je mau nemenin nganterin ke gathering itu. Sehingga gua ga perlu pulang sendirian ngegotong2 Hoop (ram or alat bantulah untuk kruistik) yang panjangnya hampir 1 m. Thanks to Ai Je, for stay there almost 3 hours, berbicara dengan para lelaki lain yang juga sedang menemani pacar or istrinya gathering di dalam sementara mereka di teras, ga pernah kenal, ga pernah email2an, dan ga punya benang merah penghubung. Dan para ladies di dalam sedang ribut ngomongin kruistik, tukeran pola, makan2 dll. It's so sweet, honey...
Then, ada suatu waktu diantara itu juga ketika gue dihadapkan untuk mengambil beberapa keputusan sulit dalam hidup gua. Dari kejadian ini gue belajar bahwa ternyata memilih itu ga gampang. Ketika pilihan yang satu jelek dan yang lain bagus, itu sih gampang banget.
Ketika pilihannya dua2nya jelek, ini juga gampang. Toh hasilnya akan sama jeleknya. Tapi ketika pilihan yang ada didepan kita dua2nya sama bagusnya, maka seketika proses mengambil keputusan tidak gampang. Kenyataan akan kehilangan salah satunya cukup menakutkan.
Inilah sifat manusia. Ga pernah puas, serakah, dan ingin memiliki segalanya. Untung saja, gue selalu dikelilingi oleh orang2 yang sangat menakjubkan, bahkan ketika sisi buruk gue mendesak keluar, mereka tetap disana, mengarahkan, membimbing dan menyayomi. Tidak ada berkah yang lebih besar daripada ini. Sungguh.
Akhir2 ini, gue belajar juga betapa penting untuk bersyukur. Kehidupan yang sering dirasa perih, menjemukan, dan lain2, ternyata jika disyukuri sangat indah. Melihat sisi lain kehidupan orang lain ternyata banyak memberi kesadaran, bahwa hidup gue sangat perlu disyukuri. Bahwa semua kekecewaan dan rasa marah didalam diri ini ga ada apa2nya jika dibandingkan dengan penderitaan orang lain.
Lupa bersyukur membuat gue merasa jadi orang yang paling sengsara didunia ini, padahal masih banyak orang2 yang bahkan untuk makan pun mereka rela mengais2 tong sampah. Lalu siapa gue ini yang langsung ngambek ketika Ai Je menolak pergi ke restoran yang gue inginkan karena jalanan macet. Dan lebih memilih makan di tempat terdekat. Masih syukur bisa makan direstoran juga.
Siapa gue ini yang gondok setengah mati sama si mbak yang nyuci baju gara2 baju kelunturan? Sementara ada orang2 yang nyuci, mandi, gosok gigi bahkan ambil air minum dari sungai ciliwung yang bahkan sudah ga jelas warnanya lagi.
Siapa gue yang menangis kesal karena Ai Je ga bisa ngajak liburan bulan lalu, dan ngambek abis2an meski udah dijanjiin bulan depan akan pergi bareng, sementara ada orang yang bahkan boro2 mikir liburan, untuk makan aja sulit.
Mengingat ini semua, gue merasa kecil dan payah. Lupa bersyukur atas hidup yang begitu indah dan berkecukupan. Menyadari bahwa masalah2 yang kita punyai hanyalah seperti pasir di tengah gurun yang luas.
Dan ketika gue mencoba bersyukur, berterimakasih dan menerima apa adanya, bener2 terasa ringan dan melegakan. Meski jujur saja, masih harus banyak belajar lagi, tapi gue yakin kok, Tuhan punya rencana sendiri terhadap setiap kita. Dan Dia bekerja dengan cara yang tidak akan mampu kita pahami. Tapi yang pasti, Dia mengatur semuanya indah pada waktunya.