Monday, January 23, 2006

M E L E P A S M U

Apa yang harus kulakukan?
Ketika suaraku tak lagi merdu bagimu
Ketika bukan sekedar khayalan
Kau lepas genggaman tanganku

Apa yang harus kulakukan?
Ketika hatimu bukan milikku kini
Ruang kosong itu penuh ketakutan
Ketika tak mungkin ada "kita" sekarang atau nanti

Ingin mengejarmu
Tapi aku hanya mampu memandang punggungmu
Menapaki bayangan angan kita
Menyesali ketaksempurnaan yang bertahta

Hanya dapat mengenangmu
Menghujam asa dan sukmaku
Terpuruk dan terluka
Ketika kau semakin tak nyata

Melepasmu...
Adalah menoreh perih pada lukaku
Namun jika itu memang inginmu
Tak ingin ku cekal kepak sayapmu

Sebab aku..
begitu mencintaimu…
(Jakarta, 19 Jan 2006)



Pernah baca disuatu tempat, bahwa kebanyakan karya yang dikarang oleh seseorang sedikit banyak dipengaruhi perasaan, sudut pandang, pola pikir dan kejadian yang dialami oleh si pengarang itu sendiri. Menurut gue, yup! Bener banget, semua yang gue tumpahkan dalam goresan pena (I have my own book full of my own poem, you know..?) adalah pengalaman pribadi, paling nggak pada saat itu.

Mungkin itu sebabnya gue juga suka baca karya orang lain, entah itu puisi, cerpen, or sekedar lyric lagu yang dicorat-coret di kertas, sekarang sih seru banget ada blog, hehehe… It helps me to know them deeper. Mencoba memahami perasaan mereka pada saat ini, the way of their thinking, dsb.. Hanya saja, gue sering kali mendapati orang-orang yang merasa malu bahwa apa yang ditulis (ini terlebih-lebih dalam hal puisi yang dikarang!) adalah perasaan hati pada saat itu. Come on, emangnya bisa menuangkan kata-kata seindah atau semenyentuh itu kalo kita nggak benar-benar tenggelam di dalamnya? Please somebody tell me if I’m wrong.

Point gue adalah mengapa harus malu mengakuinya kalo memang itu yang terjadi. Lagian, kalo emang malu, ngapain juga nulis di blog? Bukankah salah satu kegunaan blog adalah menumpahkan isi hati? Jadi, bagaimana bisa bilang kalo itu bukan pengalaman pribadi? Where’s the logic of that? (kalimat yang di bold ini dikutip dari kata2 seorang hebat, yang menjadi idola gue saat ini... Note: Kalimat ini harus dibaca dengan nada tinggi dan penuh semangat! Hehehee....)

Jadi, buat gue pribadi, yup… bener banget. Puisi diatas adalah pengalaman pribadi gue saat puisi itu tercipta. Masalahnya, sebagai seorang sanguin, sekarang ini, blom tentu seperti itu yang gue rasakan. Hehehee....Uhhh… I know that I’m smart! (LICIK mode :”ON”)


1 comment:

Sontoloyo said...

Wah puisinya...hiks
wah where's the logic of that ?
ohohohohohoho
perasaan kenal tuh yang ngomong kaya gitu.
well,segala sesuatu akan berakhir begitu juga dengan kesedihan...keep dancing !!