Thursday, February 23, 2006

Resah dan Ragu ku

Kenapa harus ku lewati garis pantaimu
Disaat goyah biduk kecilku
Ku sangka kau dermaga penentram kalbu
Nyamanku dalam bayanganmu


Tapi damai tak lama singgah
Badai datang saat ku terlena
Entah cuma rasa yang tak tentu arah
Aku terluka


Bingung dalam damai cintamu
Resah dibalik rasa nyamanku
Nelangsa jiwa tak terbaca
Kepatuhan hati topeng belaka


Perjalanan ini tak kunjung selesai
Terpaksa kuangkat sauhku lagi
Menakhodai biduk tanpa arah
Menuju samudra yang tak ramah


Aku biduk kecil
Ingin berlabuh di dermagamu
Mengakhiri perjalanan ini
Mendamaikan segala resahku


Agar nyaman hati hilang gundah
Dan keraguan tak pernah singgah lagi
Agar pergi segala luka jiwa
Dan ku dapat bersandar dipelukmu lagi
SELAMANYA...
Jakarta, Feb 23rd, 2006



Kadangkala ketika sedang menulis puisi, gue nggak pernah mikir soal apa pun kecuali apa yang dirasakan saat itu, tapi ketika membacanya lagi nggak jarang muka jadi merah gitu, kenapaaaa yaahh bisa se-mellow gitu, huahaahahaa...
But it's true, it's how I felt about anything happened in my life.
Meski nanti disuatu saat dimasa depan gue membaca hal-hal seperti ini, kejadian yang membahagiakan, memalukan, menyedihkan yang gue tuang dalam puisi atau cuma coretan kecil, gue pasti akan bersyukur bahwa hidup gue begitu berwarna...
Dan terimakasih kepada orang2 yang turut menorehkan kuasnya, termasuk kepada siapa puisi kali ini ditujukan ^_^




1 comment:

Sontoloyo said...

too mellow bow..
memang kadang banyak orang yang lagi melow menuliskan puisi..gue malah cari jokes hahahahah biar kaga sering2 mellow..semoga cepat selesai dan happy lagee...