Friday, June 09, 2006

Flash Fiction: S E S A L (Bukan Cinta Terlarang)

Gara-gara baca blog bapak ini dan buku Jangan Berkedip, gue jadi kepengen nulis flash fiction juga ^_^.
Flash fiction apaan sih? klik link ini or yang ini aja.
Enjoy the story and please put your comment ^_*


Sesal (Bukan Cinta Terlarang)

Kupandang nisan yang bertuliskan namamu, Desthine Wijaya. Tak percaya kau kini terbaring di balik timbunan tanah merah itu. Tak kuhiraukan orang-orang yang mulai meninggalkan tempat ini. Ucapan selamat tinggal atau ajakan pulang pun kuabaikan. Biarkan aku menemanimu sebentar lagi disini. Kau takut gelap kan, Des? Kau juga paling geli sama cacing. Kini kau malah harus berdekatan dengan mereka

Akh... Penyesalan menghimpit dadaku. Andaikan waktu dapat kembali, andaikan aku bisa mencegah semua ini terjadi.

Semua berawal ketika aku sadar perasaanmu padaku. Sungguh! Aku nggak bermaksud mengacak-acak kamarmu dan membaca buku harianmu, Des. Saat itu aku cuma ingin pinjam kamus Inggris-mu. Lalu kulihat buku harianmu diatas meja. Terbuka pas dihalaman yang bertuliskan "Cintai aku sebagai wanita, Ken!" . Kau tulis besar-besar tepat ditengah halaman buku.

Jantungku serasa berhenti berdetak. Lalu kuteruskan membaca habis isi buku itu. Akhirnya aku tahu kamu mencintaiku, Kenny Pramudi, cinta itu kamu sebut cinta terlarang. Karena kau mencintaiku seperti seorang wanita terhadap lawan jenisnya. Akhirnya, satu keputusan pun kuambil. Papa dan Mama harus tahu hal ini.

Disore yang naas itu, aku membicarakan tentang hal ini ke mereka. Dengan buku harianmu terpampang dimeja ruang keluarga. Tapi belum habis penjelasanku, tiba-tiba kau sudah berdiri di pintu, menatap buku harian itu. Lalu menatapku nanar. Kulihat duka, malu, kecewa, dan rasa marah terlukis di matamu. Harga diri dan perasaanmu pasti terluka.

Lalu kau berlari keluar tanpa minta penjelasanku. Aku mengejarmu, ingin menjelaskan bahwa apa yang kau lihat tidak seperti yang kau bayangkan. Tapi kau terus berlari ke jalan raya. Hingga tiba-tiba sebuah mobil berkecepatan tinggi dari tikungan jalan membuat tubuhmu terpelanting di udara dan membentur tanah begitu kerasnya.

Kau pergi saat itu juga, Des. Tanpa pesan, tanpa kata, tanpa sempat mendengarkan penjelasanku kenapa aku menunjukkan buku harianmu kepada Papa dan Mama.

"Aku bukan kakak kandungmu, Des!" kuteriakkan kenyataan ini di telingamu. Tapi kau tetap membisu. Aku dibawa ke rumah kita tatkala orangtuaku yang teman baik Papa meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Saat itu aku berusia 10 tahun dan kau 4 tahun. Kau tidak salah mencintaiku bukan sebagai kakak. Karena selama ini aku juga menyimpan perasaan yang sama. Perasaan yang coba kutekan selama ini.

Tapi takdir tak berpihak pada kita, kau tak pernah bangun dan mendengarku.

***
(363 kata)

9 comments:

Hendri Bun said...

Ohh ... itu toh flash fiction. *bingung bedainnya* hehehe ... Ikut dikirim ndak???

.................... said...

segala yg cepat, instan, flash, emg lagi ngetrend...

tantangannya adalah disiplin menyeleksi kata, sehingga sebuah kisah (atau rasa) bisa utuh hadir, hanya dengan sekian paragraf.

lagi pula, orang skrg udh ngga punya waktu baca yg panjang2...

and u did it well, pada postingan "sesal".

salam kenal. oiya, aku kelahiran sibolga, lumayan deket kan ke g'sitoli. :)

ester said...

hen: mo ikut ngirim, hen. tapi sudah gue edit ga bisa sampe 216 kata. kayaknya mo bikin yang laen buat kirim ke blogfam, hehehe

toga: iya, jaman instan ini bacaan juga instan. flashfic pas buat dibaca pada saat nunggu bis, nunggu antrian, punya 5 menit waktu senggang, bahkan yang paling pas waktu pagi2 setoran ke belakang, hahahaa... kan bacanya nggak putus. kalo putus, gue suka lupa cerita awalnya *parah*

Jeng Ungu said...

nice!!!

hiks hiks

Jeng Ungu said...

1 more thing.... ungkapan perasaan2nya jelas... good job!

Anonymous said...

good job... bikin tentang ghost dong... tapi ghost yang lucu-lucu kaya casper... hehehhehe...

ester said...

vio: thanks yee neng, senang ada yang bisa nangkep perasaannya ^_^

ars: pengen sih, pak. masalahnya gue emang penggemar serial detektip, tapi kalo bikin cerita detektip itu kan mesti logikanya jalan, bukan feeling. laah, ntar kalo pemecahan kasusnya pake feeling kan gue bisa diprotes, hehehe....

dhon: pengen sih, don. ntar kalo ilhamnya datang yah. tapi kalo ghost horror gue ogah yah,hahahaa....

Primadonna Angela said...

makasih ya udah baca jangan berkedip! :)

tetap menulis ya!

ester said...

waksss... dikunjungi sama penulis jangan berkedip!!!
saya tersanjung... thanks yah, mbakk....
bukunya keren lhooo