Kemaren malam, pas mau tidur dan gosok gigi, gue lewat di ruang tamu dan mendapati ponakan gue yang baru berumur 2,5 tahun lagi duduk dengan manisnya di sebuah kursi sambil menikmati sepotong roti isi keju. Itu jam 11 malam, udah cukup larut buat anak sekecil itu untuk terjaga, apalagi untuk makan.
Dari nyokapnya gue dapat penjelasan kalo dia terjaga karena lapar, dan minta makan. Tapi bukan itu yang jadi perhatian dia. Gue liat dia menggigiti rotinya dari pinggir ke pinggir, menyisakan bagian tengah yang sudah pasti penuh dengan keju. Ini bisa berarti dua kemungkinan, dia nggak suka keju, dan akhirnya akan membuang tengahnya roti itu setelah semua pinggirannya habis, atau dia amat suka keju sehingga menyisakan bagian yang paling enak untuk dihabiskan belakangan.
Tapi gue tau dia suka keju. Jadi pilihan terakhir lah yang tepat. Dia menyisakan yang paling enak untuk dimakan belakangan. Gue takjub, anak umur 2,5 tahun sudah bisa mikir gitu. Mungkin ini didasarkan faktor meniru orang-orang disekelilingnya. Mungkinkah dia ngerti kenikmatan menghabiskan yang paling enak belakangan, atau cuma meniru orang2 disekelilingnya tanpa tau arti sesungguhnya? Tapi yang gue tahu sih, selama ini nggak ada deh orang2 dewasa disekeliling dia yang makan roti pinggirannya duluan baru isinya belakangan.
Dulu, dulu sekali.. gue juga punya kebiasaan seperti itu, tidak lama memang. Tapi kenangan itu membekas sampai sekarang di memory gue. Hanya saja, yang gue ingat gue mulai kebiasaan itu tidak di umur 2,5 tahun (I've asked my mum for this, and she said "You ate the whole bread as soon as possible, never thought from what side you began to bite. And that habit -to save the best for the last- was began when you were began to school", see what I mean?).
Kebiasaan itu mendadak hilang karena gue mengalami dua kejadian berturut-turut dalam 2 hari disuatu masa ketika gue kelas 3 sd. Cukup nge-shock sehingga sampe sekarang gue nggak pernah mempraktekkan lagi yang namanya save the best for the last.
The first was when my auntie come to our home, she gave me 2 t-shirt. Satu berwarna merah menyala (I hate red), dan satu berwarna biru (and I really love blue).
So at the next day, jam 4 sore, setelah mandi dan bersiap-siap maen ke gang sebelah (well,gang sebelah rumah tempat gue dan temen-temen maen petak umpet, yeye, or permainan semacam itulah...), I wore the red one. Yang biru harus disimpan untuk acara2 special.
Sewaktu bermaen, gue pamer ama temen, tentang baju baru yang gue punya (kok bisa yah gue gitu dulu? hahahaha...). Dan mungkin gue pamer ke temen yang salah. Dia pulang dan ngadu ke nyokapnya. Nyokapnya datang ke rumah gue, nggak tau mengadakan transaksi apa ama emak gue, sampe akhirnya emak gue ngebujuk2 gue untuk ngasih baju yang biru satunya ke dia. Maaaakkk.... pake ngerayu2 gue gitu lagi, bilang kalo anak yang baik itu harus berbagi, huahaauhahaha... Saat itu jujur deh, gue pengen banget buka baju yang merah, dan bilang.. "Lo ambil yang ini ajah." Akhirnya, gue kasih juga baju yang biru itu, walaupun sambil ngerutuki diri, kenapa tadi gue pake yang merah.
Besokannya (believe it or not, tapi karena kejadian ini berturut-turut dalam 2 harilah maka gue kapok), gue makan kue tart yang diatasnya ada buah cherry. I really like that cherry. Maka gue singkirin cherry nya di pinggir piring, dan gue mulai makan kue tar nya. You know what happened then? Salah seorang sodara gue berlari-lari dari atas loteng, hinggap (huahahaha.. kayak burung kakak tua, hinggap!) di samping gue dan langsung menyomot cherry yang seupil-upil itu, memasukkannya dalam mulut, dan bilang, "kok lo kaga mau cherrynya sih? kan enak! dasar bego.." lalu dia ngeloyor pergi...
Saat itu gue speechless, ternganga dan akhirnya kue nya gue telen dalam sekali suap tanpa digigit lagi. Guondokknya setengah mati...
Dan sejak saat itu lah, gue nggak pernah save the best for the last lagi. Apalagi kalo sedang dikelilingi oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab, hehehe.
Melihat ponakan gue yang lagi asyik dengan pinggiran keju itu, sempat terlintas pikiran untuk ngejahilin dengan menyabot keju yang ditengahnya. Hahahaha... tapi nggak lah. Gue nggak sekejam itu untuk meninggalkan trauma pada anak kecil yang bisa kebawa sampe gede nanti, huaaaaa.. apa sih?
But, that's so nice to see her ate that bread so carefully, and after that eat the cheese dengan wajah yang penuh kepuasan. Huahaha.... thanks God gue bisa menahan diri untuk nggak jahil.